Seputih Kertas Kosong
Namaku
Karla. Aku adalah seorang gadis yang berkebutuhan khusus. Aku terlahir sebagai
seorang gadis yang tuli dan bisu. Karena aku terlahir di keluarga yang hidupnya
berkecupan, maka mulai dari sewaktu masih kecil, kedua orang tuaku rela
membayar mahal-mahal seorang perempuan untuk mengajariku berinteraksi dengan
sesama yaitu melalui bahasa isyarat. Dia mengajariku begitu keras sampai
akhirnya aku dapat berinteraksi dengan orang-orang di sekitarku. Semuanya
terasa sangat sulit tuk ku pelajari dan ku pahami. Sempat aku menyerah dan
hampir putus asa. Sempat aku tak bisa menerima keadaanku yang seperti ini, tapi
keluarga dan temanku selalu memberi dukugan terhadapku. Tapi hidupku tak
mungkin terhenti sampai di sini hanya karena hal yang ku alami. Aku harus melanjutkan perjalanan hidup yang
mungkin tak akan serumit yang aku bayangkan. Sampai pada akhirnya aku harus
menjalin relasi yang lebih luas lagi, dimana aku di masukkan ke sekolah khusus.
Ku takut hal ini akan sulit, karena tak semua orang bisa mengerti bahasa
isyarat. Dan aku yakin ini akan mempersulit kehidupanku dalam berinteraksi
dengan sesama. Di sekolah tersebut memang banyak anak yang berkebutuhan khusus,
tapi separah diriku yang tak bisa mendengar dan tak bisa berbicara. Aku merasa
minder, tetapi semuanya berubah ketika aku bertemu seorang teman yang mengalami
hal yang sama seperti ku. Namanya Jini. Tetapi nasibnya lebih menyakitkan
daripada yang aku alami, meskipun aku bisu dan tuli dan penuh kekurangan tetapi
aku masih diterima di kehidupan keluargaku. Sementara Jini, dia dibuang oleh
orang tuanya dikarenakan kekurangannya tersebut. Orang tuanya malu mengakuinya
karena kekurangan yamg ia miliki. Meskipun kami tidak bisa mendengar dan
berbicara, tetapi kami masih tetap bisa untuk berkomunikasi antara satu dan
yang lainnya. Semenjak kami bertemu, kami pun sering bersama dan bahkan kini
kami berteman baik. Kami menjalin hubungan persahabatan yang begitu erat.
Kegiatan kami di sekolah kami lalui dengan canda tawa dan penuh kebersamaan. Di
sekolah kami diajarkan berbagai banyak hal seperti layaknya seseorang yang
hidup normal. Sampai pada akhirnya Jini tiba-tiba jatuh pingsan dari tempat
duduknya ketika masih dalam proses belajar.
Aku pun menjadi panik, dan segera ku panggil guru yang sedang menulis di
papan tulis. Kemudian Jini pun dilarikan ke rumah sakit, dan ketika sampai di
rumah sakit Jini pun tak kunjung sadarkan diri. Jini dalam keadaan koma. Setelah
diperiksa dokter, ternyata Jini mengidap penyakit kanker otak. Hal ini
disebabkan karena ketika masih di dalam kandungan ibunya, Jini sempat ingin
digugurkan. Tak banyak hal yang bisa dilakukan tim medis karena tak ada yang
akan menanggung semua biaya rumah sakit. Panti asuhan tempat Jini tinggal pun tak
mempunyai cukup uang untuk membayar biaya operasi Jini. Sedangkan apabila Jini
tidak segera dioperasi mungkin jiwanya tak akan terselamatkan. Kami pun
berusaha mencari bantuan dana untuk menyelamatkan Jini. Akupun kemudian pulang
kerumah karena waktu sudah menunjukkan pukul 23:00 WIB, karena meskipun aku
sudah menginjak dewasa, orang tua ku masih saja tetap mengawasi dan mengontrol
kehidupanku. Ketika sampai di rumah, aku menangis didepan ibuku. Aku
menceritakan apa yang dialami Jini. Aku bertanya, kenapa ada orang tua yang
begitu kejam ingin menggugurkan anaknya yang tak bersalah apapun. Ibu pun
akhirnya memberitahukan masalah ini kepada ayah. Dan ayah pun bersedia membantu
semua biaya operasi Jini di rumah sakit. Dan ayah berjanji besok pagi akan ke
rumah sakit untuk mengurus administrasi proses operasinya. Tetapi semuanya
terlambat, pihak rumah sakit mengabariku bahwa Jini sudah meninggal dunia tepat
pada pukul 01:00 WIB. Tak terasa air mataku mengalir begitu deras membasahi
pipiku. “Maaf Jin, maafkan ku....” gumamku dalam hati. Aku minta maaf karena
pertolongan yang tak sempat ku berikan. Jini adalah gadis yang baik dan tak
pernah berbuat jahat terhadap orang di sekitarnya.”Kamu selalu peduli terhadap
apapun yang ada di sekitarmu” gumamku disela-sela isak tangisku. Kau bagai
selembar kertas putih kosong yang tak pernah ternodai. Ku harap kau bahagia di sana dan jangan
menangis lagi seperti yang biasanya kamu lakukan setiap malam. Tuhan lebih
sayang padamu. Dia akan selalu menjagamu.
No comments:
Post a Comment