Tuesday, November 15, 2016

ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR

Judul Buku : Ilmu Sosial Budaya Dasar
Pengarang  : Drs. Lies Sudibyo, MH., Drs. Agus Sudargono, M.Si., Dra. Titik Sudiatmi, M.Pd., Drs.   Bambang Triyanto, MM.


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Ilmu sosial budaya dasar sebagai komponen MBB
Ilmu Sosial Budaya Dasar (ISBD) adalah salah satu mata kuliah berkehidupan berkebangsaan (MBB) di Perguruan Tinggi.  Visi kelompok MBB  di Perguruan Tinggi merupakan sumber nilai dan pedoman bagi penyelenggara program studi  guna mengantarkaan mahasiswa memantapkan kepribadian, kepekaan sosial, kemampuan hidup bermasyarakat, pengetahuan tentang pelestarian sumber daya alam, lingkungan hidup, dan mempunyai wawasan tentang perekembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
Misi kelompok MBB di Perguruan Tinggi membantu menumbuhkembangkan daya kritis, daya kreatif, apresiasi, dan kepekaan mahasiswa terhadap nilai-nilai sosial yang :
1.      Bersifat demokratis, berkeadaban, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, bermartabat serta peduli terhadap pelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup.
2.      Memiliki kemampuan untuk menguasai dasar-dasar ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, serta
3.      Ikut berperan mencari solusi pemecahan masalah sosial budaya dan lingkungan hidup secara arif.
Lulusan PT haruss memiliki 3 (tiga) kemampuan :
a.       Kemampuan Akademik : kemampuan berkomunikasi secara ilmiah, baik lisan maupun tulisan, menguasai peralatan analisis, berpikir logis, kritis, sistematik dan analitik, mampu merumuskan dan memecahkaan masalah.
b.      Kemampuan Profesional : kemampuan dalam bidang profesi tenaga ahli yang bersangkutan.
c.       Kemampuan Personal : kemampuan kepribadian, dengan pengetahuan mampu menunjukkan sikap, tingkah laku, dan tindakan yang mencerminkan kepribadian Indonesia, memahami nilai-nilai keagamaan, mempunyai kepekaan terhadap berbagai masalah.

B.     Masalah-Masalah Sosial Budaya Masyarakat
Masalah-masalah sosial dapat didefenisikan sebagai suatu kondisi yang mempunyai pengaruh terhadap kehidupan sebagian besar masyarakat sebagai suatu yang tidak diinginkan atau tidak disukai dan karenanya dirasakan perlunya untuk diatasi atau diperbaiki. Sebagai contoh, pedagang kaki lima selalu dianggap sebagai masalah sosial di kota-kota karena menjadi sumber dari berbagai kekacauan lalu lintas yang akan menjadi sumber utama kejahatan yang mudah terjadi.
Kalau ditelaah lebih lanjut, maka terlihat bahwa yang terutama ditekankan berkenaan dengan pengertian masalah-masalah sosial tersebut adalah adanya kondisi atau suatu keadaan tertentu dalam kehidupan sosial masyarakat yang bersangkutan. Kondisi atau keadaan sosial tertentu sebenarnya merupakan hasil dan proses kehidupan manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan-kebutuhan jasmaniah, dan kebutuhan-kebutuhan kejiwaan.
Dalam usaha untuk memenuhi kebutuhan tersebut manusia menggunakan kebudayaan sebagai model-model petunjuk sebagai resep-resepnya didalam mengusahakan lingkungan alam dan sosialnya yang diwujudkan dalam kehidupaan sosial di masyarakat.

C.    Ruang Lingkup Ilmu Sosial Budaya Dasar
Prof. Dr. Harsja Bachtiar (dalam Abdulkadir, Muhammad, 2005:1) yang mengelompokkan ilmu dan pengetahuan menjadi 3 (tiga) yaitu :
1. Ilmu-Ilmu Alamiah ( Natural Sciences )
2. Ilmu-Ilmu Sosial ( Social Sciences )
3. Pengetahuan Budaya ( The Humanisties )
Ilmu-ilu alamiah bertujuan untuk mengetahui keteraturan-keteraturan yang terdapat di alam semeta. Untuk mengkaji digeneralisasikan, kemudian dibuat prediksi, haasil penelitiannya antara  100% benar atau 100% salah. Yang termasuk kelompok ini adalah astronomi, fisik, kimia, biologi, mekanika, kedokteran dan lain-lain.
Ilmu-ilmu sosial bertujuan untuk mengetahui keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam hubungan manusia. Untuk mengkaji hal itu digunakan metode ilmiah dengan meminjam dari ilmu-ilmu alamiah, tetapi hasilnya tidak mungkin 100% benar atau 100% salah. Termasuk dalam kelompok ini, antara lain : ekonomi, sosiologi, politik, demografi, antropologi sosial.
Pengetahuan Budaya bertujuan untuk memahami dan mencari arti kenyataan-kenyataan yang bersifat duniawi. Yang termasuk kelompok ini antara lain : filsafat, seni, sejarah, antropologi budaya, hukum, agama, dan lain-lain.
Metode pendekatan Ilmu Sosial Budaya Dasar menggunakan pendekatan Gabungan (Combined Approach) yaitu disatu sisi pendekatan terhadap manusia makhluk sosial dan interaksi dalam kelompok sosialnya, disisi lain pendekatan terhadap manusia makhluk budaya dan kemanusiaan. Ilmu Sosial Budaya Dasar adalah bertujuan untuk mengembangkan kepribadian manusia sebagai makhluk sosial dan sebagai makhluk budaya yang berwawasan luas dan kritis serta dapat menyelesaikan sebuah masalah dengan baik, memahami konsep-konsep dasar tentang manusia sebagai makhluk sosial.
Manusia sebagai makhluk sosial (zoon politicon) artinya, manusia sebagai individu tidak akan mampu hidup sendiri dan berkembang sempurna tanpa hidup bersama dengan individu manusia lainnya. Manusia sebagai makhluk berbudaya (homo humanus) artinya, manusia itu makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang paling sempurna, karena sejak lahir sudah dibekali dengan unsur (ratio), rasa (sense) yang membedakannya dengan makhluk lainnya.

BAB II
KELOMPOK SOSIAL BUDAYA
A.    Pengertian Sosial Budaya
Istilah sosial budaya merupakan bentuk gabungan dari istilah sosial dan budaya. Sosial dalam arti masyarakat, budaya atau kebudayaan dalam arti sebagai semua hasil karya, rasa dan cipta masyarakat. Sosial budaya dalam arti luas mencakup segala aspek kehidupan. Dalam hubungan ini, pengertian sosial budaya mencakup dari dua segi utama kehidupan manusia.
1.      Segi Kemasyarakatan
Pengertian kemasyarakatan pada hakikatnya adalah merupakan pergaulan hidup manusia dalam kehidupan bermasyarakat yang mengandung nilai-nilai kebersamaan, senasib sepenanggungan, dan solidaritas yang merupakan unsur pemersatu kelompok sosial.
2.      Segi Kebudayaan
Kebudayaan merupakan totalitas cara hidup yang manifestasinya tampak dalam tingkah laku yang terlembagakan. Hakikat budaya adalah sistem nilai yang merupakan hasil hubungan manusia dengan cipta, rasa dan karsa yang menumbuhkan gagasan-gagasan utama serta merupakan kekuatan pendukung dan penggerak kehidupan.

B.     Bentuk Sosial Budaya
Bentuk sosial budaya, artinya setiap kelompok sosial budaya mempunyai batas-batas yang telah ditentukan berdasarkan tipe kelompok, yang membedakannya dengan kelompok yang lain. Tipe kelompok dibedakan lagi antara yang tradisional alamiah dan yang modern. Tipe kelompok alamiah didasarkan pada kesatuan geografis, ikatan perkawinan, dan hubungan darah, sedangkan tipe kelompok modern didasarkan pada kepentingan yang sama dan keahlian profesional. Dengan demikian ada 4 (empat) macam tipe kelompok sosial budaya yaitu :
1.      Tipe kelompok sosial budaya berdasarkan kesatuan geografis, seperti desa, kota, daerah aliran sugai, daerah pantai, dan daerah pegunungan.
2.      Tipe kelompok sosial budaya berdasarkan ikatan perkawinan dan hubungan darah, seperti keluarga dan keluarga besar.
3.      Tipe kelompok sosial budaya berdasarkan kepentingan yang sama, seperti Koperasi, Lembaga Swadaya Masyarakat, dan Yayasan.
4.      Tipe kelompok sosial budaya kesakliah profesional, seperti kelompok profesi dan kelompok pengusaha.
Warga masyarakat menyatukan diri dalam tipe kelompok sosial budaya kesatuan tempat dan ikatan alamiah, dikarenakan beberapa alasan :
1.      Mata pencaharian yang sama sehingga penerapan asas gotong-royong dan tolong menolong lebih efektif dan efesien.
2.      Keturunan (etnis) yang sama, budaya yang sama yang mengikat mereka, sehingga berkembang rasa solidaritas. Kelompok untuk hidup bersama dan saling melindungi di tempat yang sama.
Contohnya, desa petani Bali biasanya di daerah sawah irigasi, mereka lebih mudah menerapkan sistem subak. Pada desa ini etnis sama, budaya sama, dan mata pencaharian juga sama, yaitu bertani.

C.    Tujuan Sosial Budaya
Berdasarkan hakikat keilmuan, maka tujuan ilmu sosial budaya dasar sebagai bagian dari kehidupan masyarakat adalah :
a.       Mengembangkan kesadaran mahasiswa menguasai pengetahuan tentang keanekaragaman atau keseteraan, dan kemartabatan manusia sebagai individu dan makhluk sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
b.      Menumbuhkan sikap kritis, peka dan arif dalam memahami keragamaan, kesederajatan, dan kemartabatan manusia dengan landasan nilai estitika, etika, dan moral dalam kehidupan bermasyarakat.
c.       Memberikan landasan pengetahuan dan wawasan yang luas serta keyakinan kepada mahasiswa sebagai bekal hidup bermasyarakat, selaku individu dan mahluk sosial yang beradab dalam mempraktekkan pengetahuan akademik, dan keahliannya serta mampu memberikan problem solving sosial budaya secara bijaksana.
Berpangkal dari tujuan pembelajaran mata kuliah ilmu sosial budaya dasar, maka ada 2 (dua) permasalahan yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan ruang lingkup pembahasan, yaitu :
a.       Adanya berbagai aspek pada kenyataan-kenyataan yang bersama-sama merupakan suatu masalah sosial, bisa ditanggapi dengan pendekatan yang berbeda-beda oleh bidang-bidang pengetahuan keahlian yang berbeda-beda sebagai pendekatan tersendiri maupun gabungan.
b.      Adanya keanekaragaman golongan dan satuan sosial dalam masyarakat yang masing-masing mempunyai kepentingan kebutuhan serta pola-pola pemikiran dan pola-pola tingkah laku sendiri, tetapi ada juga persamaan kepentingan kebutuhan serta persamaan dalam pola pemikiran dan pola tingkah laku yang menyebabkan adanya pertentangan-pertentangan maupun hubungan-hubungan kesetiakawanan dan kerja sama dalam masyarakat.



D.    Perkembangan Sosial Budaya Indonesia
Kebudayaan itu telah mengalami proses perkembangan secara bertahap dan berkeseimbangan yang kita konsepkan sebagai evolusi kebudayaan. Masa dalam kehidupan manusia dapat dibagi dua, yaitu masa prasejarah ( masa sebelum manusia mengenal tulisan sampai manusia mengenal tulisan) dan masa sejarah (masa manusia telah mengenal tuisan). Ada dua produk revolusioner hasil dari akal manusia dalam zaman prasejarah, yaitu :
1.      Penemuan roda untuk transportasi
Pada mulanya, roda hanya digunakan untuk mengangkat barang berat di atas batang pohon.
2.      Bahasa
Bahasa adalah suara yang diterima sebagai cara untuk menyampaikan pikiran seseorang kepada orang lain.
Mengenai masa prasejarah ini, ada dua pendekatan untuk membagi zaman prasejarah, yaitu :
1.      Pendekatan berdasarkan hasil teknologi, terdiri dari zaman batu tua (palaeolitikum), zaman batu tengah/madya (mesolitikum), dan zaman batu baru.
2.      Pendekatan berdasarkan model sosial ekonomi atau mata pencaharian hidup yang terdiri atas :
a.       Masa berburu dan mengumpulkan makanan, meliputi masa berburu sederhana (tadisi Paleolit) dan masa berburu tingkat lanjut (tradisi Epipaleolitik).
b.      Masa bercocok tanam, meliputi tradisi Neolitik dan Megalitik.
c.       Masa kemahiran teknik atau perundingan, meliputi tradisi semituang perunggu dan tradisi semituang besi.
Untuk sejarah kebudayaan di Indonesia, R. Soekmono (1973) membagi menjadi empat masa yaitu :
a.       Zaman Prasejarah, yaitu sejak permulaan adanya manusia dan kebudayaan sampai kira-kira abad ke-5 Masehi.
b.      Zaman Purba, yaitu sejak datangnya pengaruh India pada abad pertama Masehi sampai dengan runtuhnya Majapahit sekitar tahun 1500 Masehi.
c.       Zaman Madya, yaitu sejak datangnya pengaruh Islam menjelang akhir kerajaan Majapahit sampai dengan akhir abad ke-19.
d.      Zaman Baru/Modern, yaitu sejak masuknya anasir Barat (Eropa)  dan teknik Modern kira-kira tahun 1900 sampai sekarang.
Lahirnya peradaban Barat di Eropa dimulai dengan adanya revolusi pemikiran. Masyarakat adab ingin keluar dari abad gelap (dark ages) mulai renaissance. Melalui revolusi pemikiran inilah lahir sains dan teknoogi. Masyarakat Mesir mula-mula membuat kalender bulan berdasarkan siklus (peredaran) bulan selama 291/2. Mereka menghitung 1 tahun 12 bulan, 1 bulan sebanyak 30 hari dan lamanya setahun adalah 365 hari, yaitu 12x30 lalu ditambahkan 5 hari. Perhitungan ini sama dengan kalender yang kita gunakan sekarang yang disebut tahun syamsiah (sistem solar).

BAB III
PEMUDA DAN SOSIALISASI
A.       Pengertian Pemuda
Pada dua dekade yang lalu, terminologi pemuda selalu memiliki maka ideologis. Pemuda bukanlah sebuah gugus gagasan yang hanya dibatasi oleh persoalan umur semata. Pemuda, sebagai sebuah konsep, memiliki dimensi politis. Bennedict Anclerson, misalnya, menyebut bahwa defenisi “pemuda” selalu dikaitkan dengan dimensi politik.
Bila generasi muda sebelumnya diklasifikasikan sebagai lapisan masyarakat yang digambarkan sebagai contoh generasi yang diisi oleh sosok-sosok yang penuh idealisme, berani berkorban, berani menderita, dan menjadi pelopor setiap perubahan sosial ataupun politik untuk kepentingan bangsanya, maka generasi muda sekarang memiliki sosok yang sangat lain. Keunikan atau ciri khas pemuda sekarang yang lain adalah sikap pragmatisme. Persoalan keuangan dan karir adalah persoalan paling utama bagi generasi muda saat ini. Selain tantangan berbeda yang dihadapi pemuda saat ini, beragamnya referensi sebagai dampak dari kemajuan teknologi dan luasnya pergaulan mereka juga membuat cara pandang atau sikap mereka dalam menghadapi berbagai persoalan yang ada mejadi berbeda.

B.       Pendidikan Karakter
Pendidikan bisa dikatakan berkarakter apabila melibatkan berbagai macam komposisi niai (nilai agama, nilai moral, nilai-nilai umum, dan nilai-nilai kewarganegaraan). Secara detail pendidikan karakter memiliki nilai-nilai sebagai berikut  :
Nilai keutamaan. Manusia memiliki nilai keutamaan kalau ia menghayati dan melaksanakan tindakan-tindakan yang utama, yang membawa kebaikan bagi diri sendiri dan orang lain. Sejarah mencatat, sejak zaman kolonial, bangsa Indonesia menempatkan nilai keutamaan, seperti kesatuan dalam kehidupan bersama sebagai sebuah bangsa  sebagai nilai utama yang diperjuangkan.
Nilai keindahan. Pada masa lalu, nilai keindahan ditafsirkan terutama pada keindahan fisik, berupa hasil karya seni, patung, bangunan, sastra dan lain-lain. Nilai keindahan dalam tataran yang lebih tinggi menyentuh dimensi interioritas manuia itu sendiri yang menjadi penentu kualitas dirinya sebagai manusia. Bangsa Indonesia sejak dahulu memiiki rasa religiositas, rasa seni yang tinggi. Oleh karenanya, pengembangan  nilai-nilai keindahan bukan hanya merupakan sebuah proses berproduksi, dalam arti bukan meghasilkan sebuah obyek seni saja, namun juga pengembangan dimensi interioritas manusia sebagai insan yang memiliki kesadaran religius yang kuat.
Nilai adil. Jika ingin berbuat adil, manusia harus bekerja. Penghargaan atas nilai kerja inilah yang menentukan kualitas diri seorang individu.
Nilai cinta tanah air (patriotisme). Pendidikan karakter yang menanamkan nilai-nilai patriotisme secara mendalam tetaplah relevan, mengingat ikatan batin seseorang senantiasa terpaku pada tanah tumpah kelahirannya, dan ibu pertiwi yang membesarkannya.
Nilai demokrasi. Kebersamaan berpikir dan menyampaikan pendapat merupakan harga mati bagi masyarakat yang demokratis. Kehidupan sosial menjadi lebih baik dan beradab ketika terdapat kebebasan utuk berpikir dan menyampaikan pendapat.
Niai kesatuan. Dalam konteks berbangsa dan bernegara di Indonesia, nilai kesatuan ini menjadi dasar pendirian bangsa ini. Apa yang tertulis dalam sila ke-3 Pancasila, yaitu Persatuan Indonesia, tidak akan dapat dipertahankan jika setiap individu yang menjadi warga negara Indonesia tidak dapat menghormati perbedaan dan pluralitas yang ada dalam masyarakat.
Nilai moral. Nilai moral ini oleh Socrates dipacu sebagai sebuah panggilan untuk merawat jiwa. Jika inilah yang menentukan apakah seseorang itu sebagai individu merupakan pribadi yang baik atau tidak. Oleh karena itu, nilai-nilai moral sangatlah vital bagi sebuah pendidikan karakter. Nilai-nilai moral yang berguna dalam masyarakat kita tentunya akan semakin efektif jika nilai ideologi bangsa yaitu nilai moral dalam Pancasila menjadi jiwa dalam setiap pendidikan karakter.
Nilai-nilai kemanusian. Nilai-nilai kemanusian ini menjadi sangat relevan diterapkan dalam pendidikan karakter karena masyarakat kita telah menjadi masyarakat global. Oleh karena itu, semangat kewarganegaraan yang ingin ditanamkan dalam pendidikan karakter pun tidak mencukupi jika hanya berdasarkan batas-batas lokal negara, yang merupakan patriotisme sempit, melainkan mesti membantu setiap individu untuk dapat hidup secara kompeten sesuai dengan tuntutan masyarakat global, sebuah patriotisme bagi kemanusiaan yang mengatasi batas-batas negara.
C.     Menuju Pendidikan Berkarakter
             Pendidikan berkarakter di lembaga pendidikan (formal) lebih banyak berurusan dengan penanaman nilai. Untuk mencapai pertumbuhan integral dalam pendidikan karakter perlulah dipertimbangkan berbagai macam metode yang membantu mencapai idealisme dan tujuan pendidikan karater adalah sebagai berikut.
             Mengajarkan. Pendidikan karakter mengandaikan pengetahuan teoritis tentangkonsep-konsep nilai tertentu. Lebih dari itu sebuah tindakan dikatakan sebagai tindakan yang bernilai jika seseorang itu melakukannya dengan bebas, sadar, dan dengan pengetahuan yang cukup tentang apa yang dilakukannya. Ini mengandaikan adanya sikap reflektif atas tindakan sadar manusia. Untuk itulah salah satu unsur penting dalam pendidikan karakter adalah mengajarkan nilai-nilai itu sehingga generasi muda memiliki gagasan yang konseptual tentang nilai-nilai pemandu perilaku yang bisa dikembangkan dalam mengembangkan karakter pribadinya.
             Keteladanan. Keteladanan memang menjadi salah satu hal yang klasik bagi berhasilnya sebuah tujuan pendidikan karakter. Konsistensi dalam mengajarkan pendidikan karakter tidak sekedar melalui apa yang dikatakan melalui pembelajaran di dalam kelas, melainkan nilai itu tampil dalam diri sang guru, dalam kehidupannya yang nyata di luar kelas. Karakter guru menentukan (meskipun tidak selalu) warna kepribadian anak didik.
             Menentukan prioritas. Lembaga pendidikan umumnya memiliki prioritas dan tuntutan dasar atas karakter  yang diterapkan di lingkungan masyarakat. Jika suatu lembaga pendidikan menentukan suatu prioritas dalam pendidikan mereka adalah standar keilmuan, maka berhasil tidaknya kriteria itu mesti dapat dibuktikan melalui transparansi laporan perkembangan kemampuan akademik. Begitu juga, jika suatu lembaga pendidikan ingin menentukan sekumpulan perilaku standar, perilaku-perilaku standar yang menjadi prioritas khas lembaga pendidikan tersebut. Mestinya dapat diketahui dan dan dipahami oleh anak didik, orang tua, dan masyarakat. Tanpa adanya prioritas yang jelas proses evaluasi atas berhasil tidaknya pendidikan karakter akan menjadi tidak jelas.
       Praksis prioritas. Unsur lain bagi pendidikan karakter adalah bukti dilaksanakannya prioritas nilai pendidikan karakter tersebut. Berkaitan dengan tuntutan lembaga pendidikan atas prioritas nilai yang menjadi visi kinerja pendidikannya, lembaga pendidikan mesti mampu membuat verifikasi sejauh mana visi sekolah tersebut telah dapat direalisasikan dalam lingkup pendidikan dan melalui berbagai macam unsur yang ada dilembaga pendidikan itu sendiri.
       Refleksi. Refleksi merupakan kemampuan sadar khas manusiawi. Dengan kemampuan sadar ini, manusia mampu mengatasi diri dan meningkatkan kualitas hidupnya dengan lebih baik. Jadi, setelah tindakan dan praksis pendidikan karakter itu terjadi, perlulah diadakan semacam pendalaman, refleksi. Untuk melihat sejauh mana lembaga pendidikan telah berhasil atau gagal dalam melaksanakan pendidikan karakter.


BAB IV
KEBUDAYAAN, PERADABAN DAN SISTEM NILAI BUDAYA

A.    Kebudayaan
Kebudayaan berasal dari kata “budaya” yang berasal dari kata Sansekerta “budhayah”, sebagai bentuk jamak dari buddhi, yang berarti budi atau akal. Kebudayaan adalah hal-hal yang bersangkutan dengan budi atau akal. Koentjaraningrat memberikan pengertian kebudayaan sebagai “keseluruhan dari hasil budi dan karyanya itu”. Jadi kebudayaan merupakan produk budaya.
a.       Wujud kebudayaan
      Ralp Linton, membanginya menjadi wujud phisik dan non phisik sedangkan Koentjaraningrat membaginya kedalam tiga wujud, yaitu wujud ideal yaitu : kompleks, ide-ide, gagasan, nilai-niai, norma-norma, peraturan-peraturan dan sebagainya yang berfungsi mengatur, mengendalikan dan memberi arah kepada kelakuan manusia serta perbuatan manusia dalam masyarakat, maka sering disebut “adat tata cara”.
b.      Wujud sistem sosial, yaitu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat.
c.       Wujud kebudayaan fisik, yaitu benda-benda hasil karya manusia, misalnya pabrik, komputer, candi Borrobudur dan lain-lain.
      Kebudayaan dalam kaitannya dengan ISBD adalah penciptaan penertiban, dan pengolahan nilai-nilai insani tercakup didalamnya usaha memanusiakan diri didalam alam lingkungan baik fisik maupun liingkungan sosial. Apabila dihubungkan dengan wujud kebudayaan yang dikemukakan oleh Koentjaraningrat, maka nilai-niai insani (nilai etika) itu meliputi wujud kebudayaan ideal dan wujud sistem sosial sedangkan nilai estetika terdapat pada wujud kebudayaan fisik.
      Dikatakan nilai-nilai etika, karena menyangkut kelakuan dan perbuatan manusia yang sesuai dan dihargai martabat manusia. Contoh perbuatan yang merendahkan martabat manusia adalah pemerkosaan wanita. Dikatakan sebagai niai estetika, karena menyangkut hasil karya manusia yang berguna dan membahagiakan manusia. Apabila hasil karya itu tidak berguna, bahkan membunuh atau menghancurkan manusia itu sendiri maka yang akan timbul adalah masalah budaya, contoh bom Nuklir. Tidak manusiawi artinya tidak sesuai dengan atau tidak menghargai martabat manusia, serta tdak berguna bagi kehidupan manusia.

B.     Perwujudan Kebudayaan
      Menurut Sutan Takdir Alisyahbana, apabila perwujudan budaya itu penekanannya pada akal (mind), maka akan menimbulkan tingkat peradaban yang berbeda. Mind selalu dihubungkan dengan civilization, bukan culture, maka ada yang disebut peradaban tinggi dan peradaban rendah, karena alat ukurnya adalah akal dan pikir manusia.
      Sedangkan apabila perwujudan budaya itu penekanannya pada ketiga unsur (akal, perasaan dan kehendak) secara bersamaan maka akan timbul tingkat kebudayaan yang berbeda, maka ada kebudayaan tinggi, ada kebudayaan rendh karena diukur dengan faedahnya bagi manusia. Dengan demikian akan terjadi, walaupun peradabannya tinggi, belum tentu mempunyai kebudayaan yang tinggi, begitu pula sebaiknya, belum tentu masyarakat yang mempunyai peradaban rendah, pasti kebudayaannya rendah pula.

C.    Sistem Nilai Budaya
      Nilai adalah segala sesuatu tentang yang baik atau yang buruk. Konsep-konsep tentang nilai yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar warga masyarakat, membentuk sistem nilai budaya. Sistem nilai budaya berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia, dalam tindakan yang paling abstrak. Sistem-sistem tata kelakuan yang tingkatannya lebih kongkret, seperti aturan-aturan khusus, hukum, norma-norma, semuanya berpedoman pada sistem budaya itu.
      Ahli Antropologi Kluckhohn, membagi sistem nilai budaya kedaalam 5 (lima) masalah :
1.      Hakekat hidup manusia
2.      Hakekat karya manusia
3.      Hakekat kedudukan manusia dalam ruang dan waktu
4.      Hakekat hubungan antara manusia dengan alam
5.      Hakekat hubungan manusia dengan sesamanya

BAB V
MANUSIA DAN CINTA KASIH
A.    Pengantar
Kasih sayang sudah dikenal sejak lahir dan bahkan sejak anak ada dalam kandungan. Kasih sayang berkembang seirama dengan perkembangan anak menuju ke kedewasaan. Dalam hidupnya kadang-kadang kasih sayang ini ternoda oleh perbuatan-perbuatan keji yang berlawanan dengan perbuatan kasih sayang.

B.     Pokok Bahasan  
1.      Arti, Hubungan, Ungkapan Cinta Kasih
a.      Arti Cinta Kasih
Cinta kasih merupakan paduan dua kata yang mengandung arti psikologis yang dalam, yang sulit didefenisikan dengan rangkaian kata-kata. Mungkin dapat diberi arti tertentu apabila sudah diwujudkan dalam tingkah laku manusia terhadap manusia lainnya, atau terhadap alam sekitarnya, atau terhadap Tuhan.
Cinta kasih yang bersumber pada unsur rasa, yang merupakan ungkapan perasaan, didukung oleh unsur karsa, yang dapat berupa tingkah laku dan dipertimbangkan dengan akal yang menimbulkan tanggung jawab. Dalam cinta kasih tersimpul pula rasa kasih sayang kemesraan, belas kasihan, pengabdian.
Apabila dirumuskan secara sederhana, cinta kasih adalah perasaan kasih sayang, kemesraan belas kasihan dan pegabdian yang diungkapkan dengan tingkah laku yang bertanggung jawab.
b.      Hubungan Cinta Kasih
Ada beberapa macam hubungan cinta kasih yaitu :
·         Cinta kasih antara orang tua dan anak.
·         Cinta kasih antara pria dan wanita
·         Cinta kasih antara sesama manusia
·         Cinta kasih antara manusia dan Tuhan
·         Cinta kasih manusia terhadap lingkungannya
c.       Ungkapan Cinta
Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa cinta kasih adaah ungkapan perasaan yang diwujudkan dengan tingkah laku, seperti dengan kata-kata atau pernyataan, dengan tulisan, dengan gerak, atau dengan media lainnya. Ungkapan dengan kata-kata atau pernyataan, misalnya aku cinta kamu, tidurlah sayang, jauh dimata dekat dihati, cintaku dikampus biru. Ungkapan dengan tulisan misalnya, surat cinta, surat ibu kepada putri tersayang. Ungkapan dengan gerak, misalnya salaman, pelukan, ciuman, dan rangkulan. Sedangkan dengan media, misalnya setangkai bunga, benda kado dan lain-lain. Cinta kasih adalah kebutuhan kodrati manusia, yang merupakan bagian yang tidak dapat diabaikan dalam kehidupan manusia.

2.      Cinta Kasih Antara Orang Tua Dan Anak
Cinta kasih ini bermula dari seorang ibu terhadap anaknya. Seorang yang sedang menyusui anaknya adalah gambaran tentang ketulusan dan cinta kasih. Tugas untuk mewujudkan cinta kasih yang tulus itu berlangsung lama, dan penuh pengorbanan apabila tugas terpenting keluarga adalah mengasuh dan membesarkan serta mendidik anak, maka sebenarnya ibu adalah tokoh utama dalam unit sosial terkecil itu. Dalam hal ini, surga dibawah telapak kaki ibu adalah ungkapan ajaran agama yang menyatakan betapa penting peran ibu dalam tugas tersebut. Apabila dalam keluarga tidak terdapat lagi ketulusan daan cinta kasih itu sudah memudar, yang menjadi tokoh idaman adalah anak yang menjadi korban kelalaian tersebut.

3.      Cinta Kasih Antara Pria Dan Wanita
Cinta kasih antara pria dan wanita merupakan titik awal timbulnya keluarga sebagai unit masyarakat terkecil dan berkembangbiak umat manusia di muka bumi ini. Cinta kasih antara pria dan wanita yang sudah dewasa (akil balik) merupakan kodrat yang tidak dapat dipungkiri, dan harus ada. Dasar cinta kasih ini timbul perpaduan hidup antara pria dan wanita yang harmonis dalam bentuk perkawinan yang dihargai oleh agama, hukum, dan oleh masyarakat. Cinta kasih tulus antara satu sama lain dalam ikatan perkawinan yang harmonis dilandasi oleh perasaan sayang, kemesraan, yang merupakan kunci kebahagiaan. Dalam hubungan cinta kasih antara pria dan wanita, kemesraan yang diutamakan, kemesraan pada dasarnya merupakan perwujudan kasih sayang yang mendalam.

4.      Cinta Kasih antara Sesama Manusia
Cinta kasih antara sesama manusia dilandasi oleh rasa belas kasihan. Balas kasihan ini timbul karena ada penderitaan yang dialami manusia. Penderitaan ini mengandung pengertian yang luas, misalnya penderitaan karna bencana alam, bencana perang, karna sakit,karna sudah tua, karna yatim piatu, dan lain-lain.
Cinta kasih yang dilandasi belas kasihan yang merupakan dasar untuk menciptakan kebersamaan, perdamaian, dan saling menghargai. Apabila dalam hidup manusia, cinta kasih sudah memudar atau menghilang dari lubuk hatinya, maka akan timbul takabur, kekejaman, kepuasan yang tiada tara, nafsu setan merajalela, nilai-nilai kemanusiaan diinjak-injak. Lihat saja contohnya terjadi perkosaan wanita, perkosaan hak asasi, ras diskriminasi di Afrika Selatan.

5.      Cinta Kasih Antara Manusia Dan Tuhan
Cinta kasih dengan Tuhan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan, karna itu manusia merasa takut kepada Tuhan.  Jika manusia mengabaikan perintah Tuhannya, ia akan memperoleh murka. Untuk itu manusia menaruh cinta kasih kepada Tuhannya untuk wujud cinta kasih kepada Tuhan ialah pengabdian pemujaan atau sembayang.
Cinta kepada Tuhan menurut ajaran agama adalah takwa dan mengabdi kepada Tuhan artinya menuruti perintahNya dan menjauhi laranganya. Pemujaan atau sembayang adalah bentuk komunikasi ritual oleh manusia kepada TuhanNya.
Bentuk komunikasi ritual ini dilakukan manusia ditempat-tempat khusus, misalnya di Mesjid bagi agama Islam, di gereja bagi agama Kristen, di pura bagi agama Hindu, dan di gereja bagi agama Kristen, di pura bagi agama Hindu, dan di ncandi bagi agama Budha.

6.      Ada tiga macam Cinta Agape, Philia, Eros/Amor.
a.       Cinnta Philia, yaitu cinta manusia kepada Tuhan, seperti yang dijelaskan pada cinta pemujaan.
b.      Cinta Philia, yaitu cinta dalam keluarga, cinta kepada ayah/ibu dan saudara.
c.       Cinta Eros/Amor ialah antara pria dan wanita. Beda antara cinta eros dan amor itu, bila cinta eros itu karena kodrat dan naluri sebagai laki-laki dan perempuan sedangkan cinta amor karena unsur-unsur yang sulit yang dinalar, misalnya seorang gadis cantik jatuh cinta dan mau dinikahi oleh seorang laki-laki tua yang kerdil.
Ada cinta terhadap sesama perpaduan dari cinta Agape dan cinta Philia. Cinta kepada sesama dinamakan belas kasihan karna cinta ini bukan karna cakepnya, kayanya, cantiknya, melainkan karena penderitaannya. Perbuatan atau sikap yang menaruh belas kasihan kepada orang lain, adalah orang berakhlak. Rasa belas kasihan tidak terkandung unsur “pamrih.” Belas kasihan yang kita tumpahkan, benar-benar keluar dari lubuk hati yang ikhlas.
C.    Contoh Dalam Kehidupan
1.      Kematian Arie Hanggara di Kamis subuh 8 November 1984 tersebut boleh dibilang merupakan peristiwa terbesar akan kesalahan orang tua terhadap anaknya.
2.      Dalam kehidupan, setiap orang mendambakan  kebahagiaan.
3.      Suatu sastra yang mengembangkan kedakberhasilan orang tua mendidik anaknya karena terlalu dimanjakan adalah novel “Salah Asuhan” karangan Abdul Muis.
4.      Cinta kasih adalah bagian dan kehidupan manusia .ini adalah kebutuhan kodrati. Setiap orang, pria atau wanita membutuhkan cinta kasih.



BAB VI
MANUSIA DAN KEADILAN
A.       Pengantar
        Setiap manusia pastilah mendambakan keadilan, karena keadilah sesungguhnya merupakan suatu yang sangat esensial didalam kehidupan isane beradab. Perjuangan hidup manusia yang sangat penting adalah menegakkan keadilan dan kebenaran.
        Keadilan selalu mengandung unsure “penghargaan” dan “penilaian” atau “perimbangan”, oleh karena itulah keadilan selalu dilambangkan dengan “neraca keadilan”.
        Prof. Subekti SH mengemukakan pendapat bahwa keadilaan itu berasal dari Tuhan, tetapi manusia diberi kecakapan untuk meraba, atau merasakan keadaan yang dinamakan adil itu.
B.        Keadilan
1.      Pengertian keadilan
a.       Aristoteles
         Keadilan adalah kelayakan dalam tindakan manusia. Kelayakan diartikan sebagai titik tengah diantara kedua ujung ekstrem (diantara dua kutub), yakni ujung yang terlalu banyak dan ujung yang terlalu sedikit. Kedua ujung ekstrem itu menyangkut dua orang atau benda.
b.      Plato
Plato memproyeksikan keadilan pada diri manusia, sehingga orang dikatakan adil apabila orang itu mampu mengendalikan diri dan perasaanya dengan akalnya (dengan rasionya).
c.       Socrates
         Socrates memproyeksikan keadilan pada pemerintah. Keadilan tercipta bilamana setiap warga negara telah merasakan bahwa pemerintah telah melaksanakan tugasnya dengan baik. Karena pemerintah adalah pimpinan pokok yang menentukan dinamika masyarakat (buatlah analisis).
d.      Kong Hu Chu : keadilan itu terjadi apabila anak sebagai anak dan bapak sebagai bapak dan raja sebagai raja, masing-masing telah melaksanakan kewajibannya.
e.       Charles E. Merriam
         Charles E. Merriam dalam bukunya Systematic Politics menghubungkan dengan tujuan negara. Keadilan terwujud dalam sistem dimana terhadap saling pengertian dan prosedur-prosedur yang memberikan kepada setiap orang apa yang telah disetujui dan telah dianggap patut.
f.       Prof. I.R Poedjowoto
Secara umum menurut Prof. I.R Poedjowoto “keadilan adalah pengakuan dan perlakuan terhadap hak yang sah”.
g.      Keadiloan menurut Ajaran Agama
         Agama mempunyai ajaran-ajaran tentang keadilan. Pelangaran terhadap salah satu atau sebagian besar terhadap larangan-larangan Agama akan berakibat dosa, misalnya korupsi. Pengadilan terhadap dosa itu dilaksanakan di akhirat nanti.
h.      Keadilan dan Hasil Seni
Keadilan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Itulah sebabnya maka peristiwa-peristiwa keadilan dapat menimbulkan daya kreatifitas para seniman untuk menciptakan karya seni, sehingga banyak kita jumpai hasil-hasil seni yang mengekspresikan keadilan.

2.      Berbagai Macam Keadilan
a.       Keadilan Legal atau Keadilan Moral
         Plato berpendapat bahwa hukum merupakan substansi rohani umum dan masyarakat yang membuat dan menjaga kesatuannya. Pendapat Plato itu disebut keadilan moral, sedangkan Sunoto menyebutkan keadilan legal. Keadilan timbul karna penyatuan dan penyesuaian untuk memberi tempat yang selaras kepada bagian-bagian yang membentuk suatu masyarakat.
         Ketidakadilan terjadi apabila ada campur tangan terhadap pihak lain yang melaksanakan tugas-tugas yang selaras sebab hal itu akan menciptakan pertentangan dan ketidak keselarasan.
b.      Keadilan Distributif
         Aristoteles berpendapat bahwa keadilan akan terlaksana bilamana hal-hal yang tidak sama secara tidak sama (Justice is done when equals are treated equally). Sebagai contoh, Ali bekerja 10 tahun dan Budi bekerja 5 tahun. Pada waktu diberika hadiah harus dibedakan antara Ali dan Budi, yaitu perbedaan yang sesuai lamanya bekerja.
c.       Keadilan Komutatif
         Keadilan ini bertujuan memelihara ketertiban masyarakat dan kesejahteraan umum. Bagi Aristoteles pengertian keadilan itu merupakan asas pertalian dan ketertiban masyarakat.
Contohnya: Dr sukartono dipanggil seorang pasien, Yah namanya. Sebagai seorang dokter ia menjalankan tugasnya dengan baik. Sebaliknya, Yah menanggapi lebih baik lagi. Akibatnya, hubungan mereka berubah dan dokter dan pasien menjadi dua insan lain jenis yang saling mencinta. Bila Dr. Sukartono belum berkeluarga mungkin keadaan akan baik saja, ada keadilan komutatif.
3.      Keadilan sebagai Kebutuhan Naluri Manusia
               Jhon Locke mengemukakan bahwa manusia itu mempunyai hak-hak alamiah yang dimilikinya semenjak lahir.
Hak alamiah ini :
1.      Hak akan hidup.
2.      Hak akan kebebasan atau kemerdekaan.
3.      Hak akan milik, hak akan memiliki sesuatu.
         Diantara tiga hak alamiah itu yang terpenting adalah hak akan hidup. Dari hak akan hidup itulah kemudian muncul hak-hak yang lain, yang saat ini dinamakan azasi manusia.
         Hak-hak yang timbul dengan adanya hak-hak azasi itu antara lain:
1.      Personal Right (hak azasi pribadi)
2.      Property Right (hak azasi ekonomi, hak memiliki sesuatu, hak membeli/menjual barang-barang yang miliknya dan lain-lain.
3.      Right of legal equality (hak untuk memperolah perlakuan yang sama dalam hukum pemerintah..
4.      Political Right (hak azasi politik, hak untuk ikut serta dalam pemerintahan,  hak dipilih dan memilih dan lain-lain).
5.      Social and Cuture Rights (hak untuk memilih jenis dan jenjang pendidikan dan serta mengembangkan kebudayaan untuk disukai).
6.      Procudere Right (hak untuk mendapatkan perlakuan atau tata cara peradilan dan perlindungan, misalnya penangkapan, penahanan, penggeledahan, dan lain-lain.
Hak-hak azasi kemudian pada tanggal 10 Desember 1948 ditulis dalam piagam yang memuat 30 pasal diterima sebagai “Universal Declaration of Human Right” (pernyataan sedunia tentang hak-hak azasi manusia). Disamping mempunyai hak-hak azasi seperti diatas, menurut Thomas Hobbes, manusia juga mempunyai sifat-sifat yang melekat pada dirinya, yaitu:
1.      Cornpetifio, yaitu sifat untuk belum menguasai manusia yang lain, karena adanya rasa takut dan khawatir ia tidak akan mendapatkan perhatian.
2.      Defentio, yaitu sifat untuk mempertahankan diri dan membela diri. Sifat membela diri ini merupakan cara dan jaminan untuk menyelamatkan dirinya.
3.      Gloria, yaitu sifat untuk dihormati, disegani dan dipuji.
Berbicara masalah hak azasi manusia, tidak dapat terlepas dari masalah keadilan. Supaya manusia dapat menerima hak-haknya dengan baik, maka perlu diterbitkan.
4.    Pengertian keadilan Sosial
                 Keadilan sosial mempunyai satu arti  yaitu Social justice, yang sangat erat berhubungan dengan suatu isme, ajaran atau pendangan hidup.
Keadilan sosial pengertiannya juga untuk kepentingan sosial, kepentingan bersama, kepentingan komunal. Keadilan sosial seperti pada sila kelima Pancasila, menghendaki pembangunan dan penikmatan hasil pembangunan itu perlu dibagi adil dan merata, baik dibidang ekonomi, sosial dan kebudayaan, sehingga dunia bebas dari kemiskinan dan kesengsaran hidup.
                 Keadilan hidup dalam pancasila telah dijabarkan menjadi 12 butir pengalaman seperti yang tertuang dalam  Eka Prasetya Pancakarsa.
Keadilan sosial dalam kehiduan bangsa Indonesia dapat dijumpai pada ungkapan-ungkapan Jawa sebagai berikut:
·         Teposaliro
·         Sopo gawe nganggo, sopo nandur ngunduh
·         Ngono yo ngono, nanging mbok ajo ngono
·         Tego larane, ora tega patine
·         Wong temen tumenen wong salah seleh
C.        Contoh keadilan dalam kehidupan
1.         Bagaimana dengan seniman-seniman kita ?
     Sesuai dengan kapasitasnya pula, para seniman di Indonesia pun sebenarnya cukup vokal dalam menyuarakan sikap mereka akan praktek-praktek ketidakadilan. WS Rendra, sempat pula menorehkan kesengitannya terhadap ketidakadilan yang dialami oleh lapisan bawah dari masyarakat kita, yakni Pelacur. Melalui puisinya tersebut, Rendra mencoba mengajar mereka untuk protes terhadap ketidakadilan yang dialaminya.
2.      Kendatipun cenderung manusia untuk menolak perkosaan rasa keadilan tersebut bisa dibilang sebagai suatu kecenderungan umum, akan tetapi ada kondisi-kondisi tertentu kadang-kadang manusia juga tidak bisa menghindarkan diri dari praktek-praktek dari perkosaan rasa keadilan tersebut. Ilusi yang sangat menarik barangkali bisa kita kutip dari kutipan cerpen Bambang Istijab


BAB VII
MANUSIA DAN TANGGUNG JAWAB
A.  Pengantar
         Hidup manusia disamping sebagai makhluk Tuhan dan makhluk individu, juga merupakan makhluk sosial hidup dalam lingkungan masyarakat. Didalam interaksi sosial manusia diberi tanggung jawab, ia disamping memiliki hak juga memiliki kewajiban.
         Seseorang mau bertanggung jawab karena adanya kesadaran atau keinsyafan atau pengertian atas segala perbuatan. Tanggung jawab itu bersifat kodrati, artinya sudah menjadi bagian hidup manusia, bahwa setiap manusi dibebani dengan tanggung jawab.

B.  Tanggung Jawab
1.      Pengertian Tanggung Jawab
               Pengertian tanggung jawab menurut Ensikplopedi umum adalah “kewajiban dalam melakukan tugas tertentu”. Menurut WJS. Poerwodarminto, tanggung jawab adalah : “suatu yang menjadi kewajiban (keharusan) untuk dilaksanakan, dibahas dan sebagainya. Drs suyadi MP dalam bukunya ilmu budaya dasar, menyatakan : tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya yaang disengaja maupun tidak disengaja, tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadarn akan kewajibanya”. Dengan demikian tanggung jawab wajib menanggung segala sesuatunya. Adanya defenisi lain dalam kamus bahasa ingris dimana tanggung jawab atau
Responsibility = having the character of a moral agent capable of determining one’s own acts; capable of deterred by consideration  of sanction of or consequences.
               Defenisi tersebut memberikan pengertian yang dititikberatkan  pada:
a.       Harus ada kesanggupan untuk menetapkan sikap terhadap suatu perbuatan
b.      Harus adaa kesanggupan untuk memikul resiko dan suatu perbuatan.
          Kita dapati bahwa dalam kata “having the character”  itu dituntut sebagai suatu keharusan akan adanya pertangung jawaban moral karakter. Dalam falsafah hidup, nilai dari tanggung jawab itu dijadikan sebagai salah satu kriteria dari kepribadian atau personality seseorang.
          Dari segi filsafat, suatu tanggung jawab itu paling sedikit didukung oleh 3 (tiga) unsur, yaitu :
1.      Kesadaran = coscioness
Sadar berisi pengertian : tahu, kenal, mengerti, dapat memperhitungkan arti, guna sampai kepada soal akibat daripada sesuatu perbuatan atau pekerjaan yang dihadapi. Seseorang baru dapat dimintai tanggung jawab, bila ia sadar tentang apa yang diperbuatnya.
2.      Kecintaan = love, affestion
Cinta, suka menimbulkan rasa kepatuhan, kerelaan dan kesedihan untuk berkorban, contoh : cinta tanah air.
3.      Keberanian = courage, bravery
Berani berbuat berani tanggung jawab. Berani disini didorong oleh rasa keikhlasan, tidak bersikap ragu-ragu, dan takut terhadap segala macam rintangan yang timbul kemudian sebagai konsekuensi dari tindak perbuatan.

2.      Macam atau Jenis Tanggung Jawab
          Tanggung jawab itu dapat dibedakan menurut keadaan manusia atau hubungan yang dibuatnya. Atas dasar itu lalu dikenal beberapa jenis tanggung jawab :
a.       Tanggung jawab terhadap diri sendiri
    Tanggung jawab diri sendiri menuntut kesadaran setiap orang untuk memenuhi kewajibannya sendiri dalam mengemangkan kepribadian sebagai manusia pribadi.
b.      Tanggung jawab terhadap manusia atau masyarakat
    Tanggung jawab terhadap manusia atau masyarakat menuntut adanya kesadaran manusia untuk memenuhi kewajibannya dalam hubungan hidup bermasyarakat.
c.       Tanggung jawab terhadap lingkungan
    Tanggung jawab terhadap lingkungan menuntut kesadaran manusia untuk memenuhi kewajibannya atau pengorbanannya dalam membina dan melestarikan lingkungan hidup yang baik, teratur, sehat.
d.      Tanggung jawab terhadap Tuhan
    Tanggung jawab terhadap Tuhan menuntut kesadaran mau untuk memenuhi kewajiban atau pengabdian terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sebagai makhluk ciptaan Tuhan, manusia haruslah bersyukur kepada Tuhan atas karuniaNya menciptakan manussia dan memberi rezeki kepadanya.
    Tanggung jawab itu dapat diketahui wujudnya apabila sudah dinyatakan dengan perbuatan yang menghasilkan kematangan pribadi suasana keseimbangan atau keselarasan antar manusia. Kesadaran artinya sengaja karena dikehendaki. Perbuatan itu berupa pemenuhan kewajiban, pengabdian dan pengorbanan.
    Tanggung jawab berarti memfungsionalkan sifat-sifat manusia untuk mempertahankan nilai-nilai pribadi yang luhur, serta dapat menumbuhkan nilai harga diri manusia sebagai manusia. Jadi tanggung jawab adalah keadaan manusia akan segala tingkah laku dan perbuatannya.

3.      Pengabdian
          Pengabdian adalah perbuatan yang baik yang berupa pikiran, pendapat atau pun tenaga sebagai perwujudan kesetiaan mungkin kepada pimpinan, cinta, kasih sayang, hormat, atau suatu ikatan dimana semuanya itu dilakukan dengan penuh ikhlas. Timbulnya pengabdian pada hakekatnya adanya rasa tanggung jawab. 
          Pengabdian dapat berupa pengabdian yang kita tujukan kepada :
a.       Pengabdian kepada Keluarga
      Pada hakekatnya manusia hidup berkeluarga dan sudah tentu dalam kehidupan keluarga tersebut didasarkan pada cinta dan kasih sayang. Pengabdian kepada keluarga ini dapat berupa kepada anak istri, istri kepada suami dan anak-anaknya atau anak-anak kepada orang tuanya.
b.      Pengabdian kepada Masyarakat
      Manusia sebagai anggota masyarakat tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain, setiap orang saling mebutuhkan, tolong-menolong baik secara sadar maupun tanpa disadari. Oleh karena itu, demi masyarakat, anggota masyarakat harus mau mengabdikan kepada masyarakat. Ia harus memiliki rasa tanggung jawab kepada masyarakat lingkungannya.
c.       Pengabdian kepada Negara
      Negara merupakan lembaga masyarakat yang terbesar, sedangkan masyarakat pada hakekatnya adalah bagian dari suatu bangsa atau warga negara suatu negara. Karena itu seseorang wajib mencintai bangsa dan negaranya. Mencintai ini biasanya diwujudkan dalam bentuk pengabdian.
d.      Pengabdian kepada Tuhan
      Manusia sebagai makhluk Tuhan tidak ada existensinya dengan sendirinya, tetapi keberadaan di dunia ini adalah sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Sebagai ciptaan Tuhan sudah tentu manusia wajib mengabdi kepada Tuhan. Pegabdian berarti penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan, dan hal itu merupakan perwuudan tanggung jawabnya kepada Tuhan Yang Maha Esa.
4.      Pengorbanan
Pengorbanan berasal dari kata korban yang artinya memberikan secara ikhlas dalam wujud-wujud tertentu seperti : harta, benda, waktu, tenaga pikiran bahkan mungkin nyawa demi cintanya atau ikatannya dengan sesuatu demi kesetiaan, kebenaran.
5.      Kesadaran
Kesadaran adalah keinsyafan akan perbuatannya. Sadar artinya merasa tahu atau ingat (kepada keadaan yang sebenarnya), ingat akan dirinya, ingat kembali (dari pingsan), siuman, bangun dari tidur, ingat, tahu dan mengerti, misalnya rakyat telah sadar akan politik.
Jadi kesadaran adalah hati yang telah terbuka atau pikiran dan perasaan dimana telah terbuka tentang apa yang telah dikerjakannya. Namun dalam pengertian kesadaran dalam hal ini hanyalah dibatasi pada kesadaran moral ini sangat penting bagi kehidupan manusia.
Kesadaran moral dikatakan merupakan keterbukaan hati atau pikiran akan menghargai hak-hak dan kewajiban orang lain, untuk berbuat yang tidak melanggar hak dan kewajiban orang lain.
C.   Contoh Tanggung Jawab Dalam Kehidupan
         Kita lihat misalnya apa yang dialami Abdul Malik, pengacara yang menangani kasus pembunuhan Kasinen di Sragen akhir tahun 1982 lalu. Usahanya untuk menjadikan pembela keluarga Sucianto, pelaku pembunuhan itu berbuntut dengan mengalirnya berbagai surat kaleng yang kesemuanya mengancam dan mengancam jiwanya.



BAB VIII
MANUSIA DAN PENDERITAAN
A.    Pengantar
            Manusia selama hidupnya telah megalami perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan, tidak enak, rasa sakit dan siksaan ini disebabkan manusia mempunyai perasaan dan pikiran. Perasaan-perasaan diatas merupakan rasa derita atau penderitaan. Banyak pengalaman kita, kasus-kasus dalam kehidupan atau dalam karya seni yang menggambarkan penderitaan manusia. Antara lain : kelaparan akibat perang, tindakan kaum penjajah di Indonesia, penyakit kanker dan penganiayaan. Penderitaan manusia dapat menumbuhkan kreativitas dalam karya-karya manusia serta usaha manusia untuk melepaskan penderitaan.

B.     Penderitaan
1.      Pengertian Penderitaan
      Penderitaan mempunyai kata dasar derita yang berasal dari kata dhra (Bahasa Sansekerta), yang berarti menahan atau menanggung. Penderitaan adalah beban phisik atau jiwa manusia yang dapat menekan diri manusia. Pendapat Franklien J. Meine menyatakan bahwa penderitaan (suffering) adalah keadaan yang berhubungan dengan rasa sakit, tak menyenangkan hati, menderita rugi, dan suka menderita. Penderitaan manusia dalam kehidupan dapat disengaja atau tidak disengaja. Semedi (bertapa) dengan tanpa makan, minum dan bertempat di tempat sunyi, berpuasa bagi orang Islam dan lain-lain. Tetapi sebagian besar penderitaan tidak disengaja oleh manusia. Misalnya bencana kelaparan, wabah penyakit, gangguan, gangguan keamanan, kecelakaan dan lain-lain.
2.      Sumber Penderitaan
      Manusia sebagai makhluk hidup mempunyai banyak dimensi yang semua dimensi merrupakan satu kesatuan utuh. Ini menurut pandangan monopruralisme, yang memandang manusia banyak aspek sebagai satu kesatuan yang monodualis. Manusia mempunyai dimensi-dimensi kebendaan (alam), individu, sosial, jiwa, Tuhan dan sebagainya.
          Agar mempermudah untuk memahami hubungan dimensi manusia dan kebutuhan manusia disini disederhanakan berbagai dimensi daan kebutuhan itu hanya dibedakan atas aspek kejasmanian (phisik), kejiwaan (psikis), dan sosial. Sehingga kebutuhan manusia cukup dibedakan antara kebutuhan phisik, kebutuhan psikis, dan kebutuhan sosial.
1.      Kebutuhan phisik (basic needs) meliputi makanan, minuman, bernapas, pakaian, tempat tinggal, seks , kesehatan dan sebagainya.
2.      Kebutuhan psikis (psichologizal needs) meliputi keindahan, kenikmatan, moral, ilmu pengetahuan, religious, dan sebagainya.
3.      Kebutuhaan sosial (social needs) meliputi pergaulan, kekeluargaan, persahabatan, berkelompok,berkomunikasi dan sebagainya.
 Penderitaan yang bersumber pada orang lain(sosial)disebabkan manusia mengalami hambatan kegagalan hubungan sosial antara manusia. Apabila dikelompokkan secara sederhana berdasarkan timbulnya penderitaan,maka penderitaan manusia itu dapat diperinci sebagai berikut:
a.      Penderitaan yang timbul akibat perbuatan buruk manusia.
Misalnya: pembantu rumah tangga yang diperkosa majikannya,anak tiri disiksa ibu tiri,seorang anak yang tidak mau mengakui ibu kandungnya,akibat perang Irak-Iran,perceraian oranng tua.
b.      Penderitaan karena penyakit.
Penderitaan ini karena penyakit jasmani maupun penyakit jiwa,misalnya penyakit kudis,lepra,penyakit ganas lainnya sakit ingatan,sakit hati.
c.       Penderitaan akibat siksaan atau azab Tuhan.
Penderitaan ini merupakan azab dari Tuhan pada diri manusia atau kutukan Tuhan karena dosa-dosa manusia. Misalnya tenggelamnya raja Fir’aun,derita Nabi Ayub,bencana alam misterius.
3.      Rasa sakit
      Rasa sakit adalah rasa tidak enak bagi penderitanya. Rasa sakit dapat ditimbul karena adanya gangguan pada organ tubuh manusia atau karena suatu penyakit. Misalnya sinar yang menyilaukan menyebabkan rasa sakit pada mata, penyakit rheumatik menimbulkan rasa sakit penderitaan pada persendian dan tulang.
Rasa sakit dan penyakit manusia dalam kehidupan sehari-hari dapat dibedakan tiga macam, yaitu sakit phisik, sakit syaraf (jiwa) dan sakit hati. Ketiga penyakit bisa merupakan rangakaian rasa sakit pada manusia.
a.      Sakit phisik
            Rasa sakit phisik adalah perasaan tidak enak pada manusia. Dimana organ tubuh manusia mengalami sakit dapat diperiksa (siamati) secara jelas melalui cara medis kedokteran.
b.      Sakit syaraf daan jiwa
            Secara ilmiah sakit syaraf diistilahkan neourosis, sedangkan sakit jiwa diistilahkan psikosis. Sakit syaraf merupakan ketidak atau kurang normalnya fungsi sel-sel syaraf dalam melakukan tugasnya.
Sakit jiwa orang menyebutnya gila, dimana suatu keadaan kurang atau tidak normalnya fungsi-fungsi kejiwaan antara lain mengingat, mengamat, mengkhayal (fantasi), menghapal, menyimpan kesan dan sebagainya. Dengan demikian saraf dapat mengakibatkan kurang normalnya fungsi-fungsi jiwa seperti diatas. Sehingga saraf dapat mengakibatkan sakit jiwa.
            Baik saraf maupun sakit jiwa sering ditunjukkan dengan gejala-gejaa gangguan dengan simtoma penyimpang perilaku manusia. Simtoma-simtoma itu antara lain sebagai berikut :
1)      Gangguan pengamatan
Gangguan pengamatan merupakan kesalahan-kesalahan dalam menggolongkan hasil-hasil pengamatan manusia terhadap dunia sekitarnya. Gangguan pengamatan meliputi :
a.       Astenia : gangguan pada syaraf peraba dalam menerima stimulus melalui kulit, misalnya tidak merasakan panas, dingin, dan kehalusan.
b.      Agnosia : gangguan pada syaraf indera, sehingga mata tidak dapat berfungsi untuk melihat
c.       Illusi : kesesatan persepsi dengan menerima bayangan atau pesan yang menyesatkan, misalnya fatamorgana dipadang pasir dikira sumber air.
d.      Hallusinasi : kesalahan pengamatan dengan mengkhayal bayangan seolah-olah ada stimulus, misalnya orang merasa dikejar-kejar orang lain, orang yang baru membunuh orang lain merasa dikejarkejar almarhumnya.
e.       De ja vu : pemalsuan ingatan sehingga keliru untuk mengingat sesuatu kesan yang ada dalam jiwa.
f.       Jamais vu : ketidakmampuan syaraf dalam mengenal obyek, misalnya karena kurang konsentrasi atau perhatian terpencar-pencar tidak mampu mengenali obyek tertentu.
g.      Insomnia : gangguan pada syaraf mata dengan gejala sulit tidur atau tidak dapat tidur nyenyak.
2)      Gangguan fungsi-fungsi jiwa antara lain :
a.       Gangguan pikiran : seseorang tidak mampu berpikir cermat dalam menghadapi permasalahan.
b.      Gangguan ingatan : sering disebut sakit ingatan yaitu orang yang mampu mengingat dan mengorganisir kesan-kesan yang tersimpan dalam jiwa.
c.       Gangguan kesadaran : ketidakmampuan mengendalikan kesadaran diri, misalnya orang yang menyiksa orang lain atau berupa ekspresi luapan emosi.
d.      Histeria : pemberian respon yang secara berlebihan yang tidak sesuai dengan stimulusnya.
e.       Gangguan fantasi : dengan mengkhayalkan suatu obyek diluar kewajaran atau rasional, misalnya melamun.
3)      Sakit Hati
      Manusia dapat menderita sakit hati karena setiap orang merasa mempunyai harga diri dan rasa iri serta dengki. Misalnya diejek, tidak dipedulikan, dicacimaki.
4)      Siksaan
      Siksaan merupakan sesuatu yang mengerikan. Karena kita membayangkan tindakan pihak yang kuat yang semena-mena terhadap golongan lemah yang tak berdaya. Siksaan dapat terjadi di dunia maupun di akhirat yang disebabkan ketidakberdayaan atau dosa-dosa manusia. Siksaan di dunia bisa terjadi disebabkan unsur lingkungan di luar manusia yang semata-mata bukan pihak orang. Penyebab seseorang berlaku sadis, kejam, menyiksa itu bermacam-macam, ada yang karena uang, cinta, kedudukan, kehormatan, dendam kesumat dan sebagainya.
5)      Neraka
      Siksaan yang lebih megerikan lagi adalah siksaan di akirat yang sering disebut siksaan kubur. Kehidupan neraka digambarkan kehidupan yang penuh siksaan daRI Tuhan Yang Maha Esa.
6)      Cara mengadapi penderitaan
      Setiap orang yang menghadapi penderitaan akan berusaha untuk melepaskan diri dari penderitaan. Manusia dalam melepaskan penderitaan dihadapkan pada dua kemungkinan alternatif antara sikap negatif dan sikap positif. Dengan demikian cara menghadapi penderitaan dengan sikap positif dapat dilakukan dengan cara :
a.       Penyesalan perbuatan
b.      Bertobat dihadapan Tuhan Yang Maha Esa
c.       Inisiatif
d.      Kompensasi
C.    Contoh dalam Kehidupan
1.      Derita menimpa orang tak memilih siapa saja kalau Tuhan ingin menimpakan, tidak dapat ditolak, seperti halnya pesawat Fokker 28 milik Garuda di Branti, Tanjung Karang, Lampung.



BAB VIIII
MANUSIA DAN KEGELISAHAN
A.    Pengantar
            Kegelisahan berasal dari kata “gelisah”, artinya tidak rasa tidak tenteram hati, kurang tenang, tidak sabar lagi, merasa cemas, dan khawatir. Kegelisahan hanya dapat diketahui dari gejala tingkah laku atau gerak-gerik seseorang dalam situasi tertentu.
Kegelisahan itu timbul karena perbuatan sendiri atau karena perbuatan atau keadaan dari luar diri manusia, yang memberi pengaruh psikologis yang merugikan terhadap harta kekayaan. Kegelisahan pada dasarnya dapat terjadi karena suasana yang tidak pasti (ketidakpastian), karena merasa terasing ( keterasingan), perasaan sepi (kesepian), dan ancaman utilmatum terhadap diri maupun terhadap milik seseorang. Kegelisahan artinya keadaan perasaan yang tidak tenteram, keadaan perasaan yang tidak tenang, keadaan perasaan yang tidak sabar lagi, keadaan perasaan yang cemas dan khawatir. Kegelisahan bersumber pada unsur rasa dalam diri manusia, jadi bersifat psychologis/kejiwaan.

B.     Kegelisahan
1.      Jenis-jenis Kegelisahan
      Sigmund Freud membedakan kegelisahan menjadi 3 (tiga) macam, yaitu :
a.       Kecemasan Obyektif
Sering pula dinamakan kecemasan kenyataan, yaitu kecemasan yang disebabkan adanya bahaya dari luar, misalnya anak sakit dalam keadaan koma, kemungkinan anaknya diculik, dan lain-lain.
b.      Kecemasan Neurotik
Kecemasan ini timbul karena pengamatan tentang bahaya dari naluriah (syaraf). Kecemasan ini disebabkan karena :
1.      Cemas karena penyesuaian diri dengan lingkungan sehingga takut akan bayangannya sendiri atau pada idenya sendiri.
2.      Rasa takut irasional atau phobi.
3.      Rasa takut yang lain, seperti gagap dan lain sebagainya.
c.       Kecemasan Moral
Rasa iri, dengki, benci, dendam dan sebagainya itu merupakan sebagian dari pernyataan individu secara keseluruhan berdasarkan konsep yang kurang sehat, maka sering alasan untuk iri, benci, dendam, dan sebagainya itu kurang dapat dipahami orang lain. Adapun sebab-sebab orang gelisah pada hakikatnya takut kehiangan hak-haknya. Usaha-usaha untuk mengatasi kegellisahan, pertama-tama harus dimulai dari diri sendiri, yaitu harus bersikap tenang.
2.      Ketidak pastian
Ketidakpastian berasal dari kata “tidak pasti’, artinya tidak tentu, tidak dapat ditentukan, tidak tahu, tanpa arah yang jelas, tanpa asal-usul yang jelas. Keadaan semacam ini lebih kuat tertuju pada status, nama baik, martabat seseorang, yang menyentuh nilai kemanusiaannya, sehingga dirasakan akan merugikan haknya. Ketidakpastian tentang lulus atau tidak dalam ujian Sarjana yang sudah lama ditunggu-tunggu membuat orang gelisah.
3.      Keterasingan
Keterasingan berasal dari kata “terasing”, artinya tersisih, terpisah, terpencil, dari pergaulan masyarakat baik-baik.


BAB  X
MANUSIA DAN HARAPAN
A.    Pengantar
Setiap manusia yang normal mempunyai cita-cita atau harapan dalam hidupnya. Ini berarti bahwa ia ingin hidup dengan segala kesadaran ingin membina hidupnya agar selalu meningkat martabat nya. Dalam istilah teknis psikologis hal itu disebut” Merealisasikan diri ( self relazation), artinya manusia berusaha mengembangkan dirinya, sehingga hidupnya selalu meningkat dan lebih baik serta dapat membantu memperkaya lingkungannya. Kepercayan manusia kepada Tuhan Yang Maha Esa mempengaruhi pandangan dan harapannya terhadap hari kemudian.

B.     Pokok Bahasan
1.      Kebutuhan dan Harapan
Harapan yang sangat mendalam dapat menumbuhkan apa yang disebut keinginan. Harapan berasal dari kata “harap” yang berarti keinginan sebelum sesuatu itu terjadi. Yang mempunyai harapan itu hati, jadi putus harapan berarti putus asa. Contoh : seseorang mahasiswa yang selalu memperhatikan dosennya, mengerjakan semua tugas yang diberikannya, selalu hadir setiap kali kuliah dengan harapan memperoleh nilai yang baik. Perbuatan atau tindakan yang mengandung motif, merupakan tindakan yang mempunyai pengharapan, artinya bahwa tindakan-tindakan  itu tujukan pada suatu titik sasaran akhir, suatu hasil sebagai imbalannya, imbalan dari segala  usaha, jerih payah yang telah dilakukannya. Harapan selalu dilatarbelakangi oleh kehidupan yang berfokus pada kebutuhan hidup, yang bertujuan untuk  menciptakan kemakmuran, kesenangan, kebahagaian dan kebaikan.
2.      Percaya diri
Kemampuan yang mendukung usaha atau perjuangan untuk membangkitkan sikap “percaya diri” kemampuan meliputi kemampuan fikiran dan kemampuan fisik. Dengan kemampuan fikiran dan kemampuan fisik, manusia dapat meramalkan dan merencanakan secara sempurna usaha dan perjuangan yang ditempuhnya dalam mewujudkan keinginan.
3.      Gairah mengatasi kesulitan
Untuk mencapai keberhasilan apa yang diharapkan, kesulitan-kesulitan yang menghadang harus diatasi, dengan cara membangkitkan kemampuan yang berarti memupuk sikap percaya diri dan membangkitkan gairah atau semangat kerja. Cara mengingkatkan kemampuan ini adalah:
1)      Banyak memperoleh informasi tentang keberhasilan orang-orang tertentu.
2)      Banyak berkomunikasi, bekerja dan ikut serta dengan orang-orang yang telah berhasil dalam usahanya untuk memperoleh pengalaman dan keteramplan yang dapat dicontoh, sehingga memberi harapan.
3)      Mendengar dan menghayati nasehat-nasehat yang konstruktif, yang mengandung nilai-nilai moral yang mempertebal keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga dapat memberi arah pada kehidupan yang lebih baik dan memberi harapan.




DAFTAR PUSTAKA



        Sudibyo, Lies MH, dkk. 2013. Ilmu Social Budaya Dasar. Yogyakarta : C.V ANDI OFFSET.

Karangan Ilmiah

KARANGAN ILMIAH ALIH KODE DAN CAMPUR KODE Karangan ini Disusun Sebagai Tugas Mata Kuliah Sosiolinguistik Pada Semester Genap Tahun...