Pengarang : Drs. Lies Sudibyo, MH., Drs. Agus Sudargono, M.Si., Dra. Titik Sudiatmi, M.Pd., Drs. Bambang Triyanto, MM.
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Ilmu
sosial budaya dasar sebagai komponen MBB
Ilmu Sosial Budaya Dasar (ISBD) adalah salah satu
mata kuliah berkehidupan berkebangsaan (MBB) di Perguruan Tinggi. Visi kelompok MBB di Perguruan Tinggi merupakan sumber nilai
dan pedoman bagi penyelenggara program studi
guna mengantarkaan mahasiswa memantapkan kepribadian, kepekaan sosial,
kemampuan hidup bermasyarakat,
pengetahuan tentang pelestarian sumber daya alam, lingkungan hidup, dan
mempunyai wawasan tentang perekembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
Misi kelompok MBB di Perguruan Tinggi membantu
menumbuhkembangkan daya
kritis, daya kreatif, apresiasi, dan kepekaan mahasiswa terhadap nilai-nilai
sosial yang :
1. Bersifat
demokratis, berkeadaban, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, bermartabat
serta peduli terhadap pelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup.
2. Memiliki
kemampuan untuk menguasai dasar-dasar ilmu pengetahuan, teknologi dan seni,
serta
3. Ikut
berperan mencari solusi pemecahan masalah sosial budaya dan lingkungan hidup
secara arif.
Lulusan
PT haruss memiliki 3 (tiga) kemampuan :
a. Kemampuan
Akademik : kemampuan berkomunikasi secara ilmiah, baik lisan maupun tulisan,
menguasai peralatan analisis, berpikir logis, kritis, sistematik dan analitik,
mampu merumuskan dan memecahkaan masalah.
b. Kemampuan
Profesional : kemampuan dalam bidang profesi tenaga ahli yang bersangkutan.
c. Kemampuan
Personal : kemampuan kepribadian, dengan pengetahuan mampu menunjukkan sikap,
tingkah laku, dan tindakan yang mencerminkan kepribadian Indonesia, memahami
nilai-nilai keagamaan, mempunyai kepekaan terhadap berbagai masalah.
B.
Masalah-Masalah
Sosial Budaya Masyarakat
Masalah-masalah
sosial dapat didefenisikan sebagai suatu kondisi yang mempunyai pengaruh
terhadap kehidupan sebagian besar masyarakat sebagai suatu yang tidak
diinginkan atau tidak disukai dan karenanya dirasakan perlunya untuk diatasi
atau diperbaiki. Sebagai contoh, pedagang kaki lima selalu dianggap sebagai
masalah sosial di kota-kota karena menjadi sumber dari berbagai kekacauan lalu
lintas yang akan menjadi sumber utama kejahatan yang mudah terjadi.
Kalau
ditelaah lebih lanjut, maka terlihat bahwa yang terutama ditekankan berkenaan
dengan pengertian masalah-masalah sosial tersebut adalah adanya kondisi atau
suatu keadaan tertentu dalam kehidupan sosial masyarakat yang bersangkutan.
Kondisi atau keadaan sosial tertentu sebenarnya merupakan hasil dan proses
kehidupan manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan-kebutuhan jasmaniah, dan
kebutuhan-kebutuhan kejiwaan.
Dalam
usaha untuk memenuhi kebutuhan tersebut manusia menggunakan kebudayaan sebagai
model-model petunjuk sebagai resep-resepnya didalam mengusahakan lingkungan
alam dan sosialnya yang diwujudkan dalam kehidupaan sosial di masyarakat.
C.
Ruang
Lingkup Ilmu Sosial Budaya Dasar
Prof.
Dr. Harsja Bachtiar (dalam Abdulkadir, Muhammad, 2005:1) yang mengelompokkan
ilmu dan pengetahuan menjadi 3 (tiga) yaitu :
1. Ilmu-Ilmu
Alamiah ( Natural Sciences )
2. Ilmu-Ilmu
Sosial ( Social Sciences )
3. Pengetahuan
Budaya ( The Humanisties )
Ilmu-ilu
alamiah bertujuan untuk mengetahui keteraturan-keteraturan yang terdapat di
alam semeta. Untuk mengkaji digeneralisasikan, kemudian dibuat prediksi, haasil
penelitiannya
antara 100% benar atau 100% salah. Yang termasuk kelompok ini adalah
astronomi, fisik, kimia, biologi, mekanika, kedokteran dan lain-lain.
Ilmu-ilmu
sosial bertujuan untuk mengetahui keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam
hubungan manusia. Untuk mengkaji hal itu digunakan metode ilmiah dengan
meminjam dari ilmu-ilmu alamiah, tetapi hasilnya tidak mungkin 100% benar atau
100% salah. Termasuk dalam kelompok ini, antara lain : ekonomi, sosiologi,
politik, demografi, antropologi sosial.
Pengetahuan
Budaya bertujuan untuk memahami dan mencari arti kenyataan-kenyataan yang
bersifat duniawi. Yang termasuk kelompok ini antara lain : filsafat, seni,
sejarah, antropologi budaya, hukum, agama, dan lain-lain.
Metode
pendekatan Ilmu Sosial Budaya Dasar menggunakan pendekatan Gabungan (Combined Approach) yaitu disatu sisi
pendekatan terhadap manusia makhluk sosial dan interaksi dalam kelompok
sosialnya, disisi lain pendekatan terhadap manusia makhluk budaya dan
kemanusiaan. Ilmu Sosial Budaya Dasar adalah bertujuan untuk mengembangkan kepribadian
manusia sebagai makhluk sosial dan sebagai makhluk budaya yang berwawasan luas
dan kritis serta dapat menyelesaikan sebuah masalah dengan baik, memahami
konsep-konsep dasar tentang manusia sebagai makhluk sosial.
Manusia
sebagai makhluk sosial (zoon politicon)
artinya, manusia sebagai individu
tidak akan mampu hidup sendiri dan berkembang sempurna tanpa hidup bersama
dengan individu manusia lainnya. Manusia sebagai makhluk berbudaya (homo humanus) artinya, manusia itu
makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang paling sempurna, karena sejak lahir
sudah dibekali dengan unsur (ratio),
rasa (sense) yang membedakannya dengan
makhluk lainnya.
BAB
II
KELOMPOK
SOSIAL BUDAYA
A.
Pengertian
Sosial Budaya
Istilah sosial budaya merupakan bentuk gabungan dari
istilah sosial dan budaya. Sosial dalam arti masyarakat, budaya atau kebudayaan dalam arti
sebagai semua hasil karya, rasa dan cipta masyarakat. Sosial budaya dalam arti
luas mencakup segala aspek kehidupan. Dalam hubungan ini, pengertian sosial
budaya mencakup dari dua segi utama kehidupan manusia.
1. Segi
Kemasyarakatan
Pengertian
kemasyarakatan pada hakikatnya adalah merupakan pergaulan hidup manusia dalam
kehidupan bermasyarakat yang mengandung nilai-nilai kebersamaan, senasib
sepenanggungan, dan solidaritas yang merupakan unsur pemersatu kelompok sosial.
2. Segi
Kebudayaan
Kebudayaan merupakan
totalitas cara hidup yang manifestasinya tampak dalam tingkah laku yang
terlembagakan. Hakikat budaya adalah sistem nilai yang merupakan hasil hubungan
manusia dengan cipta, rasa dan karsa yang menumbuhkan gagasan-gagasan utama
serta merupakan kekuatan pendukung dan penggerak kehidupan.
B.
Bentuk
Sosial Budaya
Bentuk sosial budaya, artinya setiap kelompok sosial
budaya mempunyai batas-batas yang telah ditentukan berdasarkan tipe kelompok,
yang membedakannya dengan kelompok yang lain. Tipe kelompok dibedakan lagi
antara yang tradisional alamiah dan yang modern. Tipe kelompok alamiah
didasarkan pada kesatuan geografis, ikatan perkawinan, dan hubungan darah,
sedangkan tipe kelompok modern didasarkan pada kepentingan yang sama dan
keahlian profesional. Dengan demikian ada 4 (empat) macam tipe kelompok sosial
budaya yaitu :
1. Tipe
kelompok sosial budaya berdasarkan kesatuan geografis, seperti desa, kota,
daerah aliran sugai, daerah pantai, dan daerah pegunungan.
2. Tipe
kelompok sosial budaya berdasarkan ikatan perkawinan dan hubungan darah,
seperti keluarga dan keluarga besar.
3. Tipe
kelompok sosial budaya berdasarkan kepentingan yang sama, seperti Koperasi,
Lembaga Swadaya Masyarakat, dan Yayasan.
4. Tipe
kelompok sosial budaya kesakliah profesional, seperti kelompok profesi dan
kelompok pengusaha.
Warga
masyarakat menyatukan diri dalam tipe kelompok sosial budaya kesatuan tempat
dan ikatan alamiah, dikarenakan beberapa alasan :
1. Mata
pencaharian yang sama sehingga penerapan asas gotong-royong dan tolong menolong
lebih efektif dan efesien.
2. Keturunan
(etnis) yang sama, budaya yang sama yang mengikat mereka, sehingga berkembang
rasa solidaritas. Kelompok untuk hidup bersama dan saling melindungi di tempat yang sama.
Contohnya, desa petani
Bali biasanya di daerah sawah irigasi, mereka lebih mudah menerapkan sistem
subak. Pada desa ini etnis sama, budaya sama, dan mata pencaharian juga sama,
yaitu bertani.
C.
Tujuan
Sosial Budaya
Berdasarkan hakikat keilmuan, maka tujuan ilmu
sosial budaya dasar sebagai bagian dari kehidupan masyarakat adalah :
a. Mengembangkan
kesadaran mahasiswa menguasai pengetahuan tentang keanekaragaman atau
keseteraan, dan kemartabatan manusia sebagai individu dan makhluk sosial dalam
kehidupan bermasyarakat.
b. Menumbuhkan
sikap kritis, peka
dan arif dalam memahami keragamaan,
kesederajatan, dan kemartabatan manusia dengan
landasan nilai estitika, etika, dan moral dalam kehidupan
bermasyarakat.
c. Memberikan
landasan pengetahuan
dan wawasan yang luas serta keyakinan kepada mahasiswa sebagai bekal hidup
bermasyarakat, selaku
individu dan mahluk sosial yang beradab dalam mempraktekkan pengetahuan
akademik, dan keahliannya serta mampu memberikan problem solving sosial budaya
secara bijaksana.
Berpangkal
dari tujuan pembelajaran mata kuliah ilmu sosial budaya dasar, maka ada 2 (dua)
permasalahan yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan
ruang lingkup pembahasan, yaitu :
a. Adanya
berbagai aspek pada kenyataan-kenyataan yang bersama-sama merupakan suatu
masalah sosial, bisa ditanggapi dengan pendekatan yang berbeda-beda oleh bidang-bidang
pengetahuan keahlian yang berbeda-beda sebagai pendekatan tersendiri maupun
gabungan.
b. Adanya
keanekaragaman golongan dan satuan sosial dalam masyarakat yang masing-masing
mempunyai kepentingan kebutuhan serta pola-pola pemikiran dan pola-pola tingkah
laku sendiri, tetapi ada juga persamaan kepentingan kebutuhan serta persamaan
dalam pola pemikiran dan pola tingkah laku yang menyebabkan adanya
pertentangan-pertentangan maupun hubungan-hubungan kesetiakawanan dan kerja
sama dalam masyarakat.
D.
Perkembangan
Sosial Budaya Indonesia
Kebudayaan
itu telah mengalami proses perkembangan secara bertahap dan berkeseimbangan
yang kita konsepkan sebagai evolusi kebudayaan. Masa dalam kehidupan manusia
dapat dibagi dua, yaitu masa prasejarah ( masa sebelum manusia mengenal tulisan sampai manusia mengenal tulisan)
dan masa sejarah (masa manusia telah mengenal tuisan). Ada dua produk
revolusioner hasil dari akal manusia dalam zaman prasejarah, yaitu :
1. Penemuan
roda untuk transportasi
Pada mulanya, roda
hanya digunakan untuk mengangkat barang berat di atas batang pohon.
2. Bahasa
Bahasa adalah suara
yang diterima sebagai cara untuk menyampaikan pikiran seseorang kepada orang
lain.
Mengenai masa
prasejarah ini, ada dua pendekatan untuk membagi zaman prasejarah, yaitu :
1. Pendekatan
berdasarkan hasil teknologi, terdiri dari zaman batu tua (palaeolitikum), zaman
batu tengah/madya (mesolitikum), dan zaman batu baru.
2. Pendekatan
berdasarkan model sosial ekonomi atau mata pencaharian hidup yang terdiri atas
:
a. Masa
berburu dan mengumpulkan makanan, meliputi masa berburu sederhana (tadisi
Paleolit) dan masa berburu tingkat lanjut (tradisi Epipaleolitik).
b. Masa
bercocok tanam, meliputi tradisi Neolitik dan Megalitik.
c. Masa
kemahiran teknik atau perundingan, meliputi tradisi semituang perunggu dan
tradisi semituang besi.
Untuk
sejarah kebudayaan di Indonesia, R. Soekmono (1973) membagi menjadi empat masa
yaitu :
a. Zaman
Prasejarah, yaitu sejak permulaan adanya manusia dan kebudayaan sampai
kira-kira abad ke-5 Masehi.
b. Zaman
Purba, yaitu sejak datangnya pengaruh India pada abad pertama Masehi sampai
dengan runtuhnya Majapahit sekitar tahun 1500 Masehi.
c. Zaman
Madya, yaitu sejak datangnya pengaruh Islam menjelang akhir kerajaan Majapahit
sampai dengan akhir abad ke-19.
d. Zaman
Baru/Modern, yaitu sejak masuknya anasir Barat (Eropa) dan teknik Modern kira-kira tahun 1900 sampai
sekarang.
Lahirnya
peradaban Barat di Eropa dimulai dengan adanya revolusi pemikiran. Masyarakat
adab ingin keluar dari abad gelap (dark
ages) mulai renaissance. Melalui revolusi pemikiran inilah lahir sains dan
teknoogi. Masyarakat Mesir mula-mula membuat kalender bulan berdasarkan siklus
(peredaran) bulan selama 291/2. Mereka menghitung 1 tahun 12 bulan,
1 bulan sebanyak 30 hari dan lamanya setahun adalah 365 hari, yaitu 12x30 lalu
ditambahkan 5 hari. Perhitungan ini sama dengan kalender yang kita gunakan
sekarang yang disebut tahun syamsiah (sistem solar).
BAB III
PEMUDA DAN SOSIALISASI
A.
Pengertian
Pemuda
Pada
dua dekade yang lalu, terminologi pemuda selalu memiliki maka ideologis. Pemuda
bukanlah sebuah gugus gagasan yang hanya dibatasi oleh persoalan umur semata.
Pemuda, sebagai sebuah konsep, memiliki dimensi politis. Bennedict Anclerson, misalnya,
menyebut bahwa defenisi “pemuda” selalu dikaitkan dengan dimensi politik.
Bila
generasi muda sebelumnya diklasifikasikan sebagai lapisan masyarakat yang
digambarkan sebagai contoh generasi yang diisi oleh sosok-sosok yang penuh
idealisme, berani berkorban, berani menderita, dan menjadi pelopor setiap
perubahan sosial ataupun politik untuk kepentingan bangsanya, maka generasi
muda sekarang memiliki sosok yang sangat lain. Keunikan atau ciri khas pemuda
sekarang yang lain adalah sikap pragmatisme. Persoalan keuangan dan karir
adalah persoalan paling utama bagi generasi muda saat ini. Selain tantangan
berbeda yang dihadapi pemuda saat ini, beragamnya referensi sebagai dampak dari
kemajuan teknologi dan luasnya pergaulan mereka juga membuat cara pandang atau
sikap mereka dalam menghadapi berbagai persoalan yang ada mejadi berbeda.
B.
Pendidikan
Karakter
Pendidikan
bisa dikatakan berkarakter apabila melibatkan berbagai macam komposisi niai
(nilai agama, nilai moral, nilai-nilai umum, dan nilai-nilai kewarganegaraan).
Secara detail pendidikan karakter memiliki nilai-nilai sebagai berikut :
Nilai keutamaan. Manusia
memiliki nilai keutamaan kalau ia menghayati dan melaksanakan tindakan-tindakan yang
utama, yang membawa kebaikan bagi diri sendiri dan orang lain. Sejarah
mencatat, sejak zaman kolonial, bangsa Indonesia menempatkan nilai keutamaan,
seperti kesatuan dalam kehidupan bersama sebagai sebuah bangsa sebagai nilai utama yang diperjuangkan.
Nilai keindahan. Pada
masa lalu, nilai keindahan ditafsirkan terutama pada keindahan fisik, berupa
hasil karya seni, patung, bangunan, sastra dan lain-lain. Nilai keindahan dalam
tataran yang lebih tinggi menyentuh dimensi interioritas manuia itu sendiri
yang menjadi penentu kualitas dirinya sebagai manusia. Bangsa Indonesia sejak
dahulu memiiki rasa religiositas, rasa seni yang tinggi. Oleh karenanya,
pengembangan nilai-nilai keindahan bukan
hanya merupakan sebuah proses berproduksi, dalam arti bukan meghasilkan sebuah
obyek seni saja, namun juga pengembangan dimensi interioritas manusia sebagai
insan yang memiliki kesadaran religius yang kuat.
Nilai adil.
Jika ingin berbuat adil, manusia harus bekerja. Penghargaan atas nilai kerja
inilah yang menentukan kualitas diri seorang individu.
Nilai cinta tanah air
(patriotisme). Pendidikan karakter yang menanamkan
nilai-nilai patriotisme secara mendalam tetaplah relevan, mengingat ikatan
batin seseorang senantiasa terpaku pada tanah tumpah kelahirannya, dan ibu
pertiwi yang membesarkannya.
Nilai demokrasi.
Kebersamaan berpikir dan menyampaikan pendapat merupakan harga mati bagi
masyarakat yang demokratis. Kehidupan sosial menjadi lebih baik dan beradab
ketika terdapat kebebasan utuk berpikir dan menyampaikan pendapat.
Niai kesatuan.
Dalam konteks berbangsa dan
bernegara di Indonesia, nilai kesatuan ini menjadi dasar pendirian bangsa ini.
Apa yang tertulis dalam sila ke-3 Pancasila, yaitu Persatuan Indonesia, tidak
akan dapat dipertahankan jika setiap individu yang menjadi warga negara
Indonesia tidak dapat menghormati
perbedaan
dan pluralitas yang ada dalam masyarakat.
Nilai moral.
Nilai moral ini oleh Socrates dipacu sebagai sebuah panggilan untuk merawat
jiwa. Jika inilah yang menentukan apakah seseorang itu sebagai individu
merupakan pribadi yang baik atau tidak. Oleh karena itu, nilai-nilai moral
sangatlah vital bagi sebuah pendidikan karakter. Nilai-nilai moral yang berguna
dalam masyarakat kita tentunya akan semakin efektif jika nilai ideologi bangsa
yaitu nilai moral dalam Pancasila menjadi jiwa dalam setiap pendidikan
karakter.
Nilai-nilai kemanusian.
Nilai-nilai kemanusian ini menjadi sangat relevan diterapkan dalam pendidikan
karakter karena masyarakat kita telah menjadi masyarakat global. Oleh karena
itu, semangat kewarganegaraan yang
ingin ditanamkan dalam pendidikan karakter pun tidak mencukupi jika hanya
berdasarkan batas-batas lokal negara, yang merupakan patriotisme sempit,
melainkan mesti membantu setiap individu untuk dapat hidup secara kompeten
sesuai dengan tuntutan masyarakat global, sebuah patriotisme bagi kemanusiaan
yang mengatasi batas-batas negara.
C.
Menuju
Pendidikan Berkarakter
Pendidikan
berkarakter di lembaga pendidikan (formal) lebih banyak berurusan dengan
penanaman nilai. Untuk mencapai pertumbuhan integral dalam pendidikan karakter
perlulah dipertimbangkan berbagai macam metode yang membantu mencapai idealisme
dan tujuan pendidikan karater adalah sebagai berikut.
Mengajarkan. Pendidikan karakter
mengandaikan pengetahuan teoritis tentangkonsep-konsep nilai tertentu. Lebih
dari itu sebuah tindakan dikatakan sebagai tindakan yang bernilai jika
seseorang itu melakukannya dengan bebas, sadar, dan dengan pengetahuan yang
cukup tentang apa yang dilakukannya. Ini mengandaikan adanya sikap reflektif
atas tindakan sadar manusia. Untuk itulah salah satu unsur penting dalam
pendidikan karakter adalah mengajarkan nilai-nilai itu sehingga generasi muda
memiliki gagasan yang konseptual tentang nilai-nilai pemandu perilaku yang bisa
dikembangkan dalam mengembangkan karakter pribadinya.
Keteladanan.
Keteladanan memang menjadi salah satu hal yang klasik bagi berhasilnya sebuah
tujuan pendidikan karakter. Konsistensi dalam mengajarkan pendidikan karakter
tidak sekedar melalui apa yang dikatakan melalui pembelajaran di dalam kelas,
melainkan nilai itu tampil dalam diri sang guru, dalam kehidupannya yang nyata
di luar kelas. Karakter guru menentukan (meskipun tidak selalu) warna kepribadian
anak didik.
Menentukan prioritas. Lembaga
pendidikan umumnya memiliki prioritas dan tuntutan dasar atas karakter yang diterapkan di lingkungan masyarakat.
Jika suatu lembaga pendidikan menentukan suatu prioritas dalam pendidikan
mereka adalah standar keilmuan, maka berhasil tidaknya kriteria itu mesti dapat
dibuktikan melalui transparansi laporan perkembangan kemampuan akademik. Begitu
juga, jika suatu lembaga pendidikan ingin menentukan sekumpulan perilaku
standar, perilaku-perilaku standar yang menjadi prioritas khas lembaga
pendidikan tersebut. Mestinya dapat diketahui dan dan dipahami oleh anak didik,
orang tua, dan masyarakat. Tanpa adanya prioritas yang jelas proses evaluasi
atas berhasil tidaknya pendidikan karakter akan menjadi tidak jelas.
Praksis prioritas.
Unsur lain bagi pendidikan karakter adalah bukti dilaksanakannya prioritas
nilai pendidikan karakter tersebut. Berkaitan dengan tuntutan lembaga
pendidikan atas prioritas nilai yang menjadi visi kinerja pendidikannya,
lembaga pendidikan mesti mampu membuat verifikasi sejauh mana visi sekolah
tersebut telah dapat direalisasikan dalam lingkup pendidikan dan melalui
berbagai macam unsur yang ada dilembaga pendidikan itu sendiri.
Refleksi.
Refleksi merupakan kemampuan sadar khas manusiawi. Dengan kemampuan sadar ini, manusia
mampu mengatasi diri dan meningkatkan kualitas hidupnya dengan lebih baik.
Jadi, setelah tindakan dan praksis pendidikan karakter itu terjadi, perlulah
diadakan semacam pendalaman, refleksi. Untuk melihat sejauh mana lembaga
pendidikan telah berhasil atau gagal dalam melaksanakan pendidikan karakter.
BAB
IV
KEBUDAYAAN,
PERADABAN DAN SISTEM NILAI BUDAYA
A. Kebudayaan
Kebudayaan
berasal dari kata “budaya” yang berasal dari kata Sansekerta “budhayah”,
sebagai bentuk jamak dari buddhi, yang berarti budi atau akal. Kebudayaan
adalah hal-hal yang bersangkutan dengan budi atau akal. Koentjaraningrat
memberikan pengertian kebudayaan sebagai “keseluruhan dari hasil budi dan karyanya
itu”. Jadi kebudayaan merupakan produk budaya.
a.
Wujud kebudayaan
Ralp Linton, membanginya menjadi wujud
phisik dan non phisik sedangkan Koentjaraningrat membaginya kedalam tiga wujud,
yaitu wujud ideal yaitu : kompleks, ide-ide, gagasan, nilai-niai, norma-norma,
peraturan-peraturan dan sebagainya yang berfungsi mengatur, mengendalikan dan
memberi arah kepada kelakuan manusia serta perbuatan manusia dalam masyarakat,
maka sering disebut “adat tata cara”.
b.
Wujud sistem sosial, yaitu kompleks
aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat.
c.
Wujud kebudayaan fisik, yaitu
benda-benda hasil karya manusia, misalnya pabrik, komputer, candi Borrobudur
dan lain-lain.
Kebudayaan dalam kaitannya dengan ISBD
adalah penciptaan penertiban, dan pengolahan nilai-nilai insani tercakup
didalamnya usaha memanusiakan diri didalam alam lingkungan baik fisik maupun
liingkungan sosial. Apabila dihubungkan dengan wujud kebudayaan yang
dikemukakan oleh Koentjaraningrat, maka nilai-niai insani (nilai etika) itu
meliputi wujud kebudayaan ideal dan wujud sistem sosial sedangkan nilai
estetika terdapat pada wujud kebudayaan fisik.
Dikatakan nilai-nilai etika, karena
menyangkut kelakuan dan perbuatan
manusia yang sesuai dan dihargai martabat manusia. Contoh perbuatan yang
merendahkan martabat manusia adalah pemerkosaan wanita. Dikatakan sebagai niai
estetika, karena menyangkut hasil karya manusia yang berguna dan membahagiakan
manusia. Apabila hasil karya itu tidak berguna, bahkan membunuh atau
menghancurkan manusia itu sendiri maka yang akan timbul adalah masalah budaya,
contoh bom Nuklir. Tidak manusiawi artinya tidak sesuai dengan atau tidak menghargai
martabat manusia, serta
tdak berguna bagi kehidupan manusia.
B. Perwujudan Kebudayaan
Menurut Sutan Takdir Alisyahbana, apabila
perwujudan budaya itu penekanannya pada akal (mind), maka akan menimbulkan
tingkat peradaban yang berbeda. Mind selalu dihubungkan dengan civilization,
bukan culture, maka ada yang disebut peradaban tinggi dan peradaban rendah,
karena alat ukurnya adalah akal dan pikir manusia.
Sedangkan apabila perwujudan budaya itu
penekanannya pada ketiga unsur (akal, perasaan dan kehendak) secara bersamaan
maka akan timbul tingkat kebudayaan yang berbeda, maka ada kebudayaan tinggi,
ada kebudayaan rendh karena diukur dengan faedahnya bagi manusia. Dengan
demikian akan terjadi, walaupun peradabannya tinggi, belum tentu mempunyai
kebudayaan yang tinggi, begitu pula sebaiknya, belum tentu masyarakat yang
mempunyai peradaban rendah, pasti kebudayaannya rendah pula.
C. Sistem Nilai Budaya
Nilai adalah segala sesuatu tentang yang
baik atau yang buruk. Konsep-konsep tentang nilai yang hidup dalam alam pikiran
sebagian besar warga masyarakat, membentuk sistem nilai budaya. Sistem nilai
budaya berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia, dalam
tindakan yang paling abstrak. Sistem-sistem tata kelakuan yang tingkatannya
lebih kongkret, seperti aturan-aturan khusus, hukum, norma-norma, semuanya
berpedoman pada sistem budaya itu.
Ahli Antropologi Kluckhohn, membagi sistem
nilai budaya kedaalam 5 (lima) masalah :
1.
Hakekat hidup manusia
2.
Hakekat karya manusia
3.
Hakekat kedudukan manusia dalam ruang
dan waktu
4.
Hakekat hubungan antara manusia dengan
alam
5.
Hakekat hubungan manusia dengan
sesamanya
BAB
V
MANUSIA
DAN CINTA KASIH
A.
Pengantar
Kasih sayang sudah
dikenal sejak lahir dan bahkan sejak anak ada dalam kandungan. Kasih sayang
berkembang seirama dengan perkembangan anak menuju ke kedewasaan. Dalam
hidupnya kadang-kadang kasih sayang ini ternoda oleh perbuatan-perbuatan keji
yang berlawanan dengan perbuatan kasih sayang.
B.
Pokok
Bahasan
1.
Arti,
Hubungan, Ungkapan Cinta Kasih
a.
Arti
Cinta Kasih
Cinta kasih merupakan
paduan dua kata yang mengandung arti psikologis yang dalam, yang sulit
didefenisikan dengan rangkaian kata-kata. Mungkin dapat diberi arti tertentu
apabila sudah diwujudkan dalam tingkah laku manusia terhadap manusia lainnya,
atau terhadap alam sekitarnya, atau terhadap Tuhan.
Cinta kasih yang
bersumber pada unsur rasa, yang merupakan ungkapan perasaan, didukung oleh
unsur karsa, yang dapat berupa tingkah laku dan dipertimbangkan dengan akal
yang menimbulkan tanggung jawab.
Dalam
cinta kasih tersimpul pula rasa kasih sayang kemesraan, belas kasihan,
pengabdian.
Apabila dirumuskan
secara sederhana, cinta kasih adalah perasaan kasih sayang, kemesraan belas
kasihan dan pegabdian yang diungkapkan dengan tingkah laku yang bertanggung
jawab.
b.
Hubungan
Cinta Kasih
Ada beberapa macam hubungan cinta kasih
yaitu :
·
Cinta kasih antara orang tua dan anak.
·
Cinta kasih antara pria dan wanita
·
Cinta kasih antara sesama manusia
·
Cinta kasih antara manusia dan Tuhan
·
Cinta kasih manusia terhadap
lingkungannya
c.
Ungkapan
Cinta
Sebagaimana telah
dikemukakan sebelumnya bahwa cinta kasih adaah ungkapan perasaan yang
diwujudkan dengan tingkah laku, seperti dengan kata-kata atau pernyataan,
dengan tulisan, dengan
gerak, atau dengan media lainnya. Ungkapan dengan kata-kata atau pernyataan,
misalnya aku cinta kamu, tidurlah sayang, jauh dimata dekat dihati, cintaku
dikampus biru. Ungkapan dengan tulisan misalnya, surat cinta, surat ibu kepada
putri tersayang. Ungkapan dengan gerak, misalnya salaman, pelukan, ciuman, dan
rangkulan. Sedangkan dengan media, misalnya setangkai bunga, benda kado dan
lain-lain. Cinta kasih adalah kebutuhan kodrati manusia, yang merupakan bagian
yang tidak dapat diabaikan dalam kehidupan manusia.
2.
Cinta
Kasih Antara Orang Tua Dan Anak
Cinta kasih ini bermula
dari seorang ibu terhadap anaknya. Seorang yang sedang menyusui anaknya adalah
gambaran tentang ketulusan dan cinta kasih. Tugas untuk mewujudkan cinta kasih
yang tulus itu berlangsung lama, dan penuh pengorbanan apabila tugas terpenting
keluarga adalah mengasuh dan membesarkan serta mendidik anak, maka sebenarnya
ibu adalah tokoh utama dalam unit sosial terkecil itu. Dalam hal ini, surga
dibawah telapak kaki ibu adalah ungkapan ajaran agama yang menyatakan betapa penting
peran ibu dalam tugas tersebut. Apabila dalam keluarga tidak terdapat lagi
ketulusan daan cinta kasih itu sudah memudar, yang menjadi tokoh idaman adalah anak yang menjadi korban
kelalaian tersebut.
3.
Cinta
Kasih Antara Pria Dan Wanita
Cinta kasih antara pria
dan wanita merupakan titik awal timbulnya keluarga sebagai unit masyarakat
terkecil dan berkembangbiak umat manusia di muka bumi ini. Cinta kasih antara
pria dan wanita yang sudah dewasa (akil balik) merupakan kodrat yang tidak
dapat dipungkiri, dan harus ada. Dasar cinta kasih ini timbul perpaduan hidup
antara pria dan wanita yang harmonis dalam bentuk perkawinan yang dihargai oleh
agama, hukum, dan oleh masyarakat.
Cinta kasih tulus antara satu sama lain dalam ikatan perkawinan yang harmonis
dilandasi oleh perasaan sayang, kemesraan,
yang merupakan kunci kebahagiaan. Dalam hubungan cinta kasih antara pria dan
wanita, kemesraan yang diutamakan, kemesraan pada dasarnya merupakan perwujudan
kasih sayang yang mendalam.
4.
Cinta
Kasih antara Sesama Manusia
Cinta
kasih antara sesama manusia dilandasi oleh rasa belas kasihan. Balas kasihan
ini timbul karena
ada penderitaan yang dialami manusia. Penderitaan ini mengandung pengertian
yang luas, misalnya penderitaan karna bencana alam, bencana perang, karna
sakit,karna sudah tua, karna yatim piatu, dan lain-lain.
Cinta
kasih yang dilandasi belas kasihan yang merupakan dasar untuk menciptakan
kebersamaan, perdamaian, dan saling menghargai. Apabila dalam hidup manusia,
cinta kasih sudah memudar atau menghilang dari lubuk hatinya, maka akan timbul
takabur, kekejaman, kepuasan
yang tiada tara, nafsu setan merajalela, nilai-nilai kemanusiaan diinjak-injak.
Lihat saja contohnya terjadi perkosaan wanita, perkosaan hak asasi, ras
diskriminasi di Afrika Selatan.
5.
Cinta
Kasih Antara Manusia Dan Tuhan
Cinta
kasih dengan Tuhan
tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Manusia adalah makhluk ciptaan
Tuhan, karna itu manusia merasa takut kepada Tuhan. Jika manusia mengabaikan perintah Tuhannya, ia akan memperoleh murka. Untuk
itu manusia menaruh cinta kasih kepada Tuhannya untuk wujud cinta kasih kepada Tuhan ialah pengabdian pemujaan atau
sembayang.
Cinta
kepada Tuhan menurut ajaran agama adalah takwa dan mengabdi kepada Tuhan
artinya menuruti perintahNya dan menjauhi laranganya. Pemujaan atau sembayang
adalah bentuk komunikasi ritual oleh manusia
kepada TuhanNya.
Bentuk
komunikasi ritual ini dilakukan manusia ditempat-tempat khusus, misalnya di Mesjid bagi agama Islam, di gereja bagi agama Kristen, di pura bagi agama Hindu, dan di gereja bagi agama Kristen, di pura bagi agama Hindu, dan di ncandi bagi agama Budha.
6.
Ada
tiga macam Cinta Agape, Philia, Eros/Amor.
a. Cinnta
Philia, yaitu cinta manusia kepada Tuhan, seperti yang dijelaskan pada cinta
pemujaan.
b. Cinta
Philia, yaitu cinta dalam keluarga, cinta kepada ayah/ibu dan saudara.
c. Cinta
Eros/Amor ialah antara pria dan wanita. Beda antara cinta eros dan amor itu,
bila cinta eros itu karena
kodrat dan naluri
sebagai laki-laki dan perempuan sedangkan cinta amor karena unsur-unsur yang sulit yang
dinalar, misalnya seorang gadis cantik jatuh cinta dan mau dinikahi oleh
seorang laki-laki tua yang kerdil.
Ada
cinta terhadap sesama perpaduan dari cinta Agape dan cinta Philia. Cinta kepada
sesama dinamakan belas kasihan karna cinta ini bukan karna cakepnya, kayanya, cantiknya, melainkan karena penderitaannya. Perbuatan atau
sikap yang menaruh belas kasihan kepada orang lain, adalah orang berakhlak.
Rasa belas kasihan tidak terkandung unsur “pamrih.” Belas kasihan yang kita
tumpahkan, benar-benar keluar dari lubuk hati yang ikhlas.
C.
Contoh
Dalam Kehidupan
1. Kematian
Arie Hanggara di Kamis subuh 8 November 1984 tersebut boleh dibilang merupakan
peristiwa terbesar akan kesalahan orang tua terhadap anaknya.
2. Dalam
kehidupan, setiap orang mendambakan
kebahagiaan.
3. Suatu
sastra yang mengembangkan kedakberhasilan orang tua mendidik anaknya karena terlalu dimanjakan adalah novel
“Salah Asuhan” karangan Abdul Muis.
4. Cinta
kasih adalah bagian dan kehidupan manusia .ini adalah kebutuhan kodrati. Setiap
orang, pria atau wanita membutuhkan cinta kasih.
BAB
VI
MANUSIA
DAN KEADILAN
A. Pengantar
Setiap manusia pastilah mendambakan keadilan,
karena
keadilah sesungguhnya merupakan
suatu yang sangat
esensial didalam kehidupan isane beradab. Perjuangan hidup manusia yang sangat
penting adalah menegakkan
keadilan dan kebenaran.
Keadilan selalu mengandung unsure
“penghargaan” dan
“penilaian” atau “perimbangan”, oleh karena itulah keadilan selalu
dilambangkan dengan “neraca keadilan”.
Prof. Subekti SH mengemukakan pendapat
bahwa keadilaan itu berasal dari Tuhan, tetapi manusia diberi kecakapan untuk
meraba, atau merasakan keadaan yang dinamakan adil itu.
B. Keadilan
1. Pengertian keadilan
a.
Aristoteles
Keadilan
adalah
kelayakan dalam tindakan manusia. Kelayakan diartikan sebagai titik tengah
diantara kedua ujung ekstrem (diantara dua kutub), yakni ujung yang terlalu banyak dan ujung
yang terlalu sedikit. Kedua ujung ekstrem itu menyangkut dua orang atau benda.
b.
Plato
Plato
memproyeksikan keadilan pada diri manusia, sehingga orang dikatakan adil
apabila orang itu mampu mengendalikan diri dan perasaanya dengan akalnya
(dengan rasionya).
c.
Socrates
Socrates
memproyeksikan keadilan pada pemerintah. Keadilan tercipta bilamana setiap
warga negara telah merasakan bahwa pemerintah telah melaksanakan tugasnya dengan baik. Karena pemerintah
adalah pimpinan pokok yang menentukan dinamika masyarakat (buatlah analisis).
d.
Kong Hu Chu : keadilan itu terjadi
apabila anak sebagai anak dan bapak sebagai bapak dan raja sebagai raja,
masing-masing telah melaksanakan kewajibannya.
e.
Charles E. Merriam
Charles
E. Merriam dalam bukunya Systematic Politics
menghubungkan dengan tujuan negara. Keadilan terwujud dalam sistem dimana
terhadap saling pengertian dan prosedur-prosedur yang memberikan kepada setiap
orang
apa yang telah disetujui dan telah dianggap patut.
f.
Prof. I.R Poedjowoto
Secara
umum menurut Prof. I.R Poedjowoto “keadilan adalah pengakuan dan perlakuan
terhadap hak yang sah”.
g.
Keadiloan menurut Ajaran Agama
Agama
mempunyai ajaran-ajaran tentang keadilan. Pelangaran terhadap salah satu atau sebagian besar terhadap
larangan-larangan Agama akan berakibat dosa, misalnya korupsi. Pengadilan terhadap dosa itu
dilaksanakan di akhirat
nanti.
h.
Keadilan dan Hasil Seni
Keadilan
tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Itulah sebabnya maka
peristiwa-peristiwa keadilan dapat menimbulkan daya kreatifitas para seniman
untuk menciptakan karya seni, sehingga banyak kita jumpai hasil-hasil seni yang mengekspresikan
keadilan.
2. Berbagai Macam Keadilan
a.
Keadilan Legal atau Keadilan Moral
Plato berpendapat bahwa hukum merupakan
substansi rohani umum dan masyarakat yang membuat dan menjaga kesatuannya.
Pendapat Plato itu disebut keadilan moral, sedangkan Sunoto menyebutkan
keadilan legal. Keadilan timbul karna penyatuan dan penyesuaian untuk memberi tempat yang
selaras kepada bagian-bagian yang membentuk suatu masyarakat.
Ketidakadilan terjadi apabila ada
campur tangan terhadap pihak lain
yang melaksanakan
tugas-tugas
yang selaras sebab hal itu akan menciptakan pertentangan dan ketidak
keselarasan.
b.
Keadilan Distributif
Aristoteles
berpendapat bahwa keadilan akan terlaksana bilamana hal-hal yang tidak sama
secara
tidak sama (Justice is done when equals
are treated equally). Sebagai contoh, Ali bekerja 10 tahun dan Budi bekerja
5 tahun. Pada waktu diberika hadiah
harus dibedakan antara Ali dan Budi, yaitu perbedaan yang sesuai lamanya
bekerja.
c.
Keadilan Komutatif
Keadilan
ini bertujuan memelihara ketertiban masyarakat dan kesejahteraan umum. Bagi
Aristoteles pengertian keadilan itu merupakan asas pertalian dan ketertiban
masyarakat.
Contohnya:
Dr sukartono dipanggil seorang pasien, Yah namanya. Sebagai seorang dokter ia
menjalankan tugasnya dengan baik. Sebaliknya, Yah menanggapi lebih baik lagi.
Akibatnya, hubungan mereka berubah dan dokter dan pasien menjadi dua insan lain
jenis yang saling mencinta. Bila Dr. Sukartono belum berkeluarga mungkin keadaan
akan baik saja, ada keadilan komutatif.
3. Keadilan sebagai Kebutuhan Naluri
Manusia
Jhon Locke mengemukakan bahwa
manusia itu mempunyai hak-hak alamiah yang dimilikinya semenjak lahir.
Hak
alamiah ini :
1.
Hak akan hidup.
2.
Hak akan kebebasan atau kemerdekaan.
3.
Hak akan milik, hak akan memiliki
sesuatu.
Diantara tiga hak alamiah itu yang
terpenting adalah hak akan hidup. Dari hak akan hidup itulah kemudian muncul
hak-hak yang lain, yang saat ini dinamakan azasi manusia.
Hak-hak yang timbul dengan adanya
hak-hak azasi itu antara lain:
1.
Personal Right (hak azasi pribadi)
2.
Property Right (hak azasi ekonomi, hak
memiliki sesuatu, hak membeli/menjual barang-barang yang miliknya dan
lain-lain.
3.
Right of legal equality (hak untuk
memperolah perlakuan yang sama dalam hukum pemerintah..
4.
Political Right (hak azasi politik, hak
untuk ikut serta dalam pemerintahan, hak
dipilih dan memilih dan lain-lain).
5.
Social and Cuture Rights (hak untuk
memilih jenis dan jenjang pendidikan dan serta mengembangkan kebudayaan untuk
disukai).
6.
Procudere Right (hak untuk mendapatkan
perlakuan atau tata cara peradilan dan perlindungan, misalnya penangkapan,
penahanan, penggeledahan, dan lain-lain.
Hak-hak
azasi kemudian pada tanggal 10 Desember 1948 ditulis dalam piagam yang memuat
30 pasal diterima sebagai “Universal Declaration of Human Right” (pernyataan
sedunia tentang hak-hak azasi manusia). Disamping mempunyai hak-hak azasi
seperti diatas, menurut Thomas Hobbes, manusia juga mempunyai sifat-sifat yang
melekat pada dirinya, yaitu:
1.
Cornpetifio, yaitu sifat untuk belum
menguasai manusia yang lain, karena adanya rasa takut dan khawatir ia tidak
akan mendapatkan perhatian.
2.
Defentio, yaitu sifat untuk mempertahankan
diri dan
membela diri. Sifat membela diri ini merupakan cara dan jaminan untuk
menyelamatkan dirinya.
3.
Gloria, yaitu sifat untuk dihormati,
disegani dan dipuji.
Berbicara
masalah hak azasi manusia, tidak dapat terlepas dari masalah keadilan. Supaya
manusia dapat menerima hak-haknya
dengan baik, maka perlu diterbitkan.
4. Pengertian keadilan Sosial
Keadilan sosial mempunyai satu
arti yaitu Social justice, yang sangat
erat berhubungan dengan suatu isme, ajaran atau pendangan hidup.
Keadilan
sosial pengertiannya
juga untuk kepentingan sosial, kepentingan bersama, kepentingan komunal.
Keadilan sosial seperti pada sila kelima Pancasila, menghendaki pembangunan dan
penikmatan hasil pembangunan itu perlu dibagi adil dan merata, baik dibidang
ekonomi, sosial dan kebudayaan, sehingga dunia bebas dari kemiskinan dan
kesengsaran hidup.
Keadilan hidup dalam pancasila
telah dijabarkan menjadi 12 butir pengalaman seperti yang tertuang dalam Eka Prasetya Pancakarsa.
Keadilan
sosial dalam kehiduan bangsa Indonesia dapat dijumpai pada ungkapan-ungkapan
Jawa sebagai berikut:
·
Teposaliro
·
Sopo gawe nganggo, sopo nandur ngunduh
·
Ngono yo ngono, nanging mbok ajo ngono
·
Tego larane, ora tega patine
·
Wong temen tumenen wong salah seleh
C. Contoh keadilan dalam kehidupan
1.
Bagaimana dengan seniman-seniman kita ?
Sesuai
dengan kapasitasnya pula, para seniman di Indonesia pun sebenarnya cukup vokal
dalam menyuarakan sikap mereka akan praktek-praktek ketidakadilan. WS Rendra,
sempat pula menorehkan kesengitannya terhadap ketidakadilan yang dialami oleh
lapisan bawah dari masyarakat kita, yakni Pelacur. Melalui puisinya tersebut,
Rendra mencoba mengajar mereka untuk protes terhadap ketidakadilan yang
dialaminya.
2.
Kendatipun cenderung manusia untuk menolak perkosaan rasa keadilan
tersebut bisa dibilang sebagai suatu kecenderungan umum, akan tetapi ada
kondisi-kondisi tertentu kadang-kadang manusia juga tidak bisa menghindarkan
diri dari praktek-praktek dari perkosaan rasa keadilan tersebut. Ilusi yang
sangat menarik barangkali bisa kita kutip dari kutipan cerpen Bambang Istijab
BAB
VII
MANUSIA
DAN TANGGUNG JAWAB
A. Pengantar
Hidup manusia disamping sebagai makhluk
Tuhan dan makhluk individu, juga merupakan makhluk sosial hidup dalam
lingkungan masyarakat. Didalam interaksi sosial manusia diberi tanggung jawab,
ia disamping memiliki hak juga memiliki kewajiban.
Seseorang mau bertanggung jawab karena
adanya kesadaran atau keinsyafan atau pengertian atas segala perbuatan.
Tanggung jawab itu bersifat kodrati, artinya sudah menjadi bagian hidup
manusia, bahwa setiap manusi dibebani dengan tanggung jawab.
B. Tanggung Jawab
1. Pengertian Tanggung Jawab
Pengertian
tanggung jawab menurut Ensikplopedi umum adalah “kewajiban dalam melakukan
tugas tertentu”. Menurut WJS. Poerwodarminto, tanggung jawab adalah : “suatu
yang menjadi kewajiban (keharusan) untuk dilaksanakan, dibahas dan sebagainya.
Drs suyadi MP dalam bukunya ilmu budaya dasar, menyatakan : tanggung jawab
adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya yaang disengaja
maupun tidak disengaja, tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan
kesadarn akan kewajibanya”. Dengan
demikian tanggung jawab wajib menanggung segala sesuatunya. Adanya defenisi
lain dalam kamus bahasa ingris dimana tanggung jawab atau
Responsibility = having the
character of a moral agent capable of determining one’s own acts; capable of
deterred by consideration of sanction of
or consequences.
Defenisi
tersebut memberikan pengertian yang dititikberatkan pada:
a.
Harus ada kesanggupan untuk menetapkan sikap
terhadap suatu perbuatan
b.
Harus adaa kesanggupan untuk memikul
resiko dan suatu perbuatan.
Kita dapati bahwa dalam kata “having the character” itu dituntut sebagai suatu keharusan akan
adanya pertangung jawaban moral karakter. Dalam falsafah hidup, nilai dari
tanggung jawab itu dijadikan sebagai salah satu kriteria dari kepribadian atau
personality seseorang.
Dari segi filsafat, suatu tanggung
jawab itu paling sedikit didukung oleh 3 (tiga) unsur, yaitu :
1.
Kesadaran = coscioness
Sadar
berisi pengertian : tahu, kenal, mengerti, dapat memperhitungkan arti, guna
sampai kepada soal akibat daripada sesuatu perbuatan atau pekerjaan yang
dihadapi. Seseorang baru dapat dimintai tanggung jawab, bila ia sadar tentang
apa yang diperbuatnya.
2.
Kecintaan = love, affestion
Cinta,
suka menimbulkan rasa kepatuhan, kerelaan dan kesedihan untuk berkorban, contoh
: cinta tanah air.
3.
Keberanian = courage, bravery
Berani
berbuat berani tanggung jawab. Berani disini didorong oleh rasa keikhlasan,
tidak bersikap ragu-ragu, dan takut terhadap segala macam rintangan yang timbul
kemudian sebagai konsekuensi dari tindak perbuatan.
2. Macam atau Jenis Tanggung Jawab
Tanggung
jawab itu dapat dibedakan menurut keadaan manusia atau hubungan yang dibuatnya.
Atas dasar itu lalu dikenal beberapa jenis tanggung jawab :
a.
Tanggung jawab terhadap diri sendiri
Tanggung jawab diri sendiri menuntut
kesadaran setiap orang untuk memenuhi kewajibannya sendiri dalam mengemangkan
kepribadian sebagai manusia pribadi.
b.
Tanggung jawab terhadap manusia atau
masyarakat
Tanggung jawab terhadap manusia atau
masyarakat menuntut adanya kesadaran manusia untuk memenuhi kewajibannya dalam
hubungan hidup bermasyarakat.
c.
Tanggung jawab terhadap lingkungan
Tanggung jawab terhadap lingkungan menuntut
kesadaran manusia untuk memenuhi kewajibannya atau pengorbanannya dalam membina
dan melestarikan lingkungan hidup yang baik, teratur, sehat.
d.
Tanggung jawab terhadap Tuhan
Tanggung jawab terhadap Tuhan menuntut
kesadaran mau untuk memenuhi kewajiban atau pengabdian terhadap Tuhan Yang Maha
Esa, sebagai makhluk ciptaan Tuhan, manusia haruslah bersyukur kepada Tuhan
atas karuniaNya menciptakan manussia dan memberi rezeki kepadanya.
Tanggung jawab itu dapat diketahui wujudnya
apabila sudah dinyatakan dengan perbuatan yang menghasilkan kematangan pribadi
suasana keseimbangan atau keselarasan antar manusia. Kesadaran artinya sengaja
karena dikehendaki. Perbuatan itu berupa pemenuhan kewajiban, pengabdian dan
pengorbanan.
Tanggung jawab berarti memfungsionalkan
sifat-sifat manusia untuk mempertahankan nilai-nilai pribadi yang luhur, serta
dapat menumbuhkan nilai harga diri manusia sebagai manusia. Jadi tanggung jawab
adalah keadaan manusia akan segala tingkah laku dan perbuatannya.
3. Pengabdian
Pengabdian adalah perbuatan yang baik yang
berupa pikiran, pendapat atau pun tenaga sebagai perwujudan kesetiaan mungkin
kepada pimpinan, cinta, kasih sayang, hormat, atau suatu ikatan dimana semuanya
itu dilakukan dengan penuh ikhlas. Timbulnya pengabdian pada hakekatnya adanya
rasa tanggung jawab.
Pengabdian dapat berupa pengabdian
yang kita tujukan kepada :
a.
Pengabdian kepada Keluarga
Pada hakekatnya manusia hidup berkeluarga
dan sudah tentu dalam kehidupan keluarga tersebut didasarkan pada cinta dan
kasih sayang. Pengabdian kepada keluarga ini dapat berupa kepada anak istri,
istri kepada suami dan anak-anaknya atau anak-anak kepada orang tuanya.
b.
Pengabdian kepada Masyarakat
Manusia sebagai anggota masyarakat tidak
dapat hidup tanpa bantuan orang lain, setiap orang saling mebutuhkan,
tolong-menolong baik secara sadar maupun tanpa disadari. Oleh karena itu, demi
masyarakat, anggota masyarakat harus mau mengabdikan kepada masyarakat. Ia
harus memiliki rasa tanggung jawab kepada masyarakat lingkungannya.
c.
Pengabdian kepada Negara
Negara
merupakan lembaga masyarakat yang terbesar, sedangkan masyarakat pada
hakekatnya adalah bagian dari suatu bangsa atau warga negara suatu negara.
Karena itu seseorang wajib mencintai bangsa dan negaranya. Mencintai ini
biasanya diwujudkan dalam bentuk pengabdian.
d.
Pengabdian kepada Tuhan
Manusia
sebagai makhluk Tuhan tidak ada existensinya dengan sendirinya, tetapi
keberadaan di dunia ini adalah sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Sebagai ciptaan
Tuhan sudah tentu manusia wajib mengabdi kepada Tuhan. Pegabdian berarti
penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan, dan hal itu merupakan perwuudan
tanggung jawabnya kepada Tuhan Yang Maha Esa.
4. Pengorbanan
Pengorbanan
berasal dari kata korban yang artinya memberikan secara ikhlas dalam wujud-wujud
tertentu seperti : harta, benda, waktu, tenaga pikiran bahkan mungkin nyawa
demi cintanya atau
ikatannya dengan sesuatu demi kesetiaan, kebenaran.
5. Kesadaran
Kesadaran
adalah keinsyafan akan perbuatannya. Sadar artinya merasa tahu atau ingat
(kepada keadaan yang sebenarnya), ingat akan dirinya, ingat kembali (dari
pingsan), siuman, bangun dari tidur, ingat, tahu dan mengerti, misalnya rakyat
telah sadar akan politik.
Jadi
kesadaran adalah hati yang telah terbuka atau pikiran dan perasaan dimana telah
terbuka tentang apa yang telah dikerjakannya. Namun dalam pengertian kesadaran
dalam hal ini hanyalah dibatasi pada kesadaran moral ini sangat penting bagi
kehidupan manusia.
Kesadaran
moral dikatakan merupakan keterbukaan
hati atau pikiran akan menghargai hak-hak dan kewajiban orang lain, untuk
berbuat yang tidak melanggar hak dan kewajiban orang lain.
C. Contoh Tanggung Jawab Dalam Kehidupan
Kita lihat misalnya apa yang dialami
Abdul Malik, pengacara yang
menangani kasus pembunuhan Kasinen di Sragen akhir tahun 1982 lalu. Usahanya
untuk menjadikan pembela keluarga Sucianto, pelaku pembunuhan itu berbuntut
dengan mengalirnya berbagai surat kaleng yang kesemuanya mengancam dan
mengancam jiwanya.
BAB VIII
MANUSIA DAN PENDERITAAN
A.
Pengantar
Manusia
selama hidupnya telah megalami perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan, tidak
enak, rasa sakit dan siksaan ini disebabkan manusia mempunyai perasaan dan
pikiran. Perasaan-perasaan diatas merupakan rasa derita atau penderitaan.
Banyak pengalaman kita, kasus-kasus dalam kehidupan atau dalam karya seni yang
menggambarkan penderitaan manusia. Antara lain : kelaparan akibat perang, tindakan
kaum penjajah di Indonesia, penyakit kanker dan penganiayaan. Penderitaan
manusia dapat menumbuhkan kreativitas dalam karya-karya manusia serta usaha
manusia untuk melepaskan penderitaan.
B.
Penderitaan
1. Pengertian Penderitaan
Penderitaan mempunyai kata dasar derita
yang berasal dari kata dhra (Bahasa Sansekerta), yang berarti menahan atau
menanggung. Penderitaan adalah beban phisik atau jiwa manusia yang dapat
menekan diri manusia. Pendapat Franklien J. Meine menyatakan bahwa penderitaan
(suffering) adalah keadaan yang berhubungan dengan rasa sakit, tak menyenangkan
hati, menderita rugi, dan suka menderita. Penderitaan manusia dalam kehidupan
dapat disengaja atau tidak disengaja. Semedi (bertapa) dengan tanpa makan,
minum dan bertempat di tempat sunyi, berpuasa bagi orang Islam dan lain-lain.
Tetapi sebagian besar penderitaan tidak disengaja oleh manusia. Misalnya
bencana kelaparan, wabah penyakit, gangguan, gangguan keamanan, kecelakaan dan
lain-lain.
2. Sumber Penderitaan
Manusia sebagai makhluk hidup mempunyai
banyak dimensi yang semua dimensi merrupakan satu kesatuan utuh. Ini menurut
pandangan monopruralisme, yang memandang manusia banyak aspek sebagai satu
kesatuan yang monodualis. Manusia mempunyai dimensi-dimensi kebendaan (alam),
individu, sosial, jiwa, Tuhan dan sebagainya.
Agar mempermudah untuk memahami hubungan dimensi
manusia dan kebutuhan manusia disini disederhanakan berbagai dimensi daan
kebutuhan itu hanya dibedakan atas aspek kejasmanian (phisik), kejiwaan
(psikis), dan sosial. Sehingga kebutuhan manusia cukup dibedakan antara
kebutuhan phisik, kebutuhan psikis, dan kebutuhan sosial.
1.
Kebutuhan phisik (basic needs) meliputi
makanan, minuman, bernapas, pakaian, tempat tinggal, seks , kesehatan dan
sebagainya.
2.
Kebutuhan psikis (psichologizal needs)
meliputi keindahan, kenikmatan, moral, ilmu pengetahuan, religious, dan
sebagainya.
3.
Kebutuhaan sosial (social needs)
meliputi pergaulan, kekeluargaan, persahabatan, berkelompok,berkomunikasi dan
sebagainya.
Penderitaan yang bersumber pada orang
lain(sosial)disebabkan manusia mengalami hambatan kegagalan hubungan sosial
antara manusia. Apabila
dikelompokkan secara sederhana berdasarkan timbulnya penderitaan,maka
penderitaan manusia itu dapat diperinci sebagai berikut:
a. Penderitaan yang timbul akibat
perbuatan buruk manusia.
Misalnya:
pembantu rumah tangga yang diperkosa majikannya,anak tiri disiksa ibu
tiri,seorang anak yang tidak mau mengakui ibu kandungnya,akibat perang
Irak-Iran,perceraian oranng tua.
b. Penderitaan karena penyakit.
Penderitaan
ini karena penyakit jasmani maupun penyakit jiwa,misalnya penyakit
kudis,lepra,penyakit ganas lainnya sakit ingatan,sakit hati.
c. Penderitaan akibat siksaan atau
azab Tuhan.
Penderitaan
ini merupakan azab dari Tuhan pada diri manusia atau kutukan Tuhan karena
dosa-dosa manusia. Misalnya tenggelamnya raja Fir’aun,derita Nabi Ayub,bencana
alam misterius.
3. Rasa sakit
Rasa
sakit adalah rasa tidak enak bagi penderitanya. Rasa sakit dapat ditimbul
karena adanya gangguan pada organ tubuh manusia atau karena suatu penyakit.
Misalnya sinar yang menyilaukan menyebabkan rasa sakit pada mata, penyakit rheumatik menimbulkan rasa
sakit penderitaan pada persendian dan tulang.
Rasa
sakit dan penyakit manusia dalam kehidupan sehari-hari dapat dibedakan tiga
macam, yaitu sakit phisik, sakit syaraf
(jiwa) dan sakit hati. Ketiga
penyakit bisa merupakan rangakaian rasa sakit pada manusia.
a. Sakit phisik
Rasa
sakit phisik adalah perasaan tidak enak pada manusia. Dimana organ tubuh manusia mengalami
sakit dapat diperiksa (siamati) secara jelas melalui cara medis kedokteran.
b. Sakit syaraf daan jiwa
Secara
ilmiah sakit syaraf diistilahkan neourosis, sedangkan sakit jiwa diistilahkan psikosis.
Sakit syaraf merupakan ketidak atau kurang normalnya fungsi sel-sel syaraf
dalam melakukan tugasnya.
Sakit
jiwa orang menyebutnya gila, dimana suatu keadaan kurang atau tidak normalnya
fungsi-fungsi kejiwaan antara lain mengingat, mengamat, mengkhayal (fantasi),
menghapal,
menyimpan kesan dan sebagainya. Dengan demikian saraf dapat mengakibatkan
kurang normalnya fungsi-fungsi jiwa seperti diatas. Sehingga saraf dapat
mengakibatkan sakit jiwa.
Baik saraf maupun sakit jiwa sering
ditunjukkan dengan gejala-gejaa gangguan dengan simtoma penyimpang perilaku
manusia. Simtoma-simtoma itu antara lain sebagai berikut :
1)
Gangguan pengamatan
Gangguan
pengamatan merupakan kesalahan-kesalahan dalam menggolongkan hasil-hasil
pengamatan manusia terhadap dunia sekitarnya. Gangguan pengamatan meliputi :
a.
Astenia : gangguan pada syaraf peraba
dalam menerima stimulus melalui kulit, misalnya tidak merasakan panas, dingin,
dan kehalusan.
b.
Agnosia : gangguan pada syaraf indera,
sehingga
mata tidak dapat berfungsi untuk melihat
c.
Illusi : kesesatan persepsi dengan
menerima bayangan atau pesan yang menyesatkan, misalnya fatamorgana dipadang
pasir dikira sumber air.
d.
Hallusinasi : kesalahan pengamatan
dengan mengkhayal
bayangan seolah-olah ada stimulus, misalnya orang merasa dikejar-kejar orang
lain, orang yang baru membunuh orang lain merasa dikejarkejar almarhumnya.
e.
De ja vu : pemalsuan ingatan sehingga
keliru untuk mengingat sesuatu kesan yang ada dalam jiwa.
f.
Jamais vu : ketidakmampuan syaraf dalam
mengenal obyek, misalnya karena kurang konsentrasi atau perhatian
terpencar-pencar tidak mampu mengenali obyek tertentu.
g.
Insomnia : gangguan pada syaraf mata
dengan gejala sulit tidur atau tidak dapat tidur nyenyak.
2)
Gangguan fungsi-fungsi jiwa antara lain
:
a.
Gangguan pikiran : seseorang tidak mampu
berpikir cermat dalam menghadapi permasalahan.
b.
Gangguan ingatan : sering disebut sakit
ingatan yaitu orang yang mampu mengingat dan mengorganisir kesan-kesan yang
tersimpan dalam jiwa.
c.
Gangguan kesadaran : ketidakmampuan
mengendalikan kesadaran diri, misalnya orang yang menyiksa orang lain atau
berupa ekspresi luapan emosi.
d.
Histeria : pemberian respon yang secara
berlebihan yang tidak sesuai dengan stimulusnya.
e.
Gangguan fantasi : dengan mengkhayalkan
suatu obyek diluar kewajaran atau rasional, misalnya melamun.
3)
Sakit Hati
Manusia
dapat menderita sakit hati karena setiap orang merasa mempunyai harga diri dan
rasa iri serta dengki. Misalnya diejek, tidak dipedulikan, dicacimaki.
4)
Siksaan
Siksaan
merupakan sesuatu yang mengerikan. Karena kita membayangkan tindakan pihak yang
kuat yang semena-mena terhadap golongan lemah yang tak berdaya. Siksaan dapat
terjadi di dunia maupun di akhirat yang disebabkan ketidakberdayaan atau
dosa-dosa manusia. Siksaan di dunia bisa terjadi disebabkan unsur lingkungan di
luar manusia yang semata-mata bukan pihak orang. Penyebab seseorang berlaku
sadis, kejam, menyiksa itu bermacam-macam, ada yang karena uang, cinta,
kedudukan, kehormatan, dendam kesumat dan sebagainya.
5)
Neraka
Siksaan
yang lebih megerikan lagi adalah siksaan di akirat yang sering disebut siksaan
kubur. Kehidupan neraka digambarkan kehidupan yang penuh siksaan daRI Tuhan
Yang Maha Esa.
6)
Cara mengadapi penderitaan
Setiap
orang yang menghadapi penderitaan akan berusaha untuk melepaskan diri dari
penderitaan. Manusia dalam melepaskan penderitaan dihadapkan pada dua
kemungkinan alternatif antara sikap negatif dan sikap positif. Dengan demikian
cara menghadapi penderitaan dengan sikap positif dapat dilakukan dengan cara :
a.
Penyesalan perbuatan
b.
Bertobat dihadapan Tuhan Yang Maha Esa
c.
Inisiatif
d.
Kompensasi
C.
Contoh
dalam Kehidupan
1.
Derita menimpa orang tak memilih siapa
saja kalau Tuhan ingin menimpakan, tidak dapat ditolak, seperti halnya pesawat
Fokker 28 milik Garuda di Branti, Tanjung Karang, Lampung.
BAB VIIII
MANUSIA DAN KEGELISAHAN
A.
Pengantar
Kegelisahan
berasal dari kata “gelisah”, artinya tidak rasa tidak tenteram hati, kurang
tenang, tidak sabar lagi, merasa cemas, dan khawatir. Kegelisahan hanya dapat
diketahui dari gejala tingkah laku atau gerak-gerik seseorang dalam situasi
tertentu.
Kegelisahan itu timbul karena perbuatan sendiri atau
karena perbuatan atau keadaan dari luar diri manusia, yang memberi pengaruh
psikologis yang merugikan terhadap harta kekayaan. Kegelisahan pada dasarnya
dapat terjadi karena suasana yang tidak pasti (ketidakpastian), karena merasa
terasing ( keterasingan), perasaan sepi (kesepian), dan ancaman utilmatum
terhadap diri maupun terhadap milik seseorang. Kegelisahan artinya keadaan
perasaan yang tidak tenteram, keadaan perasaan yang tidak tenang, keadaan
perasaan yang tidak sabar lagi, keadaan perasaan yang cemas dan khawatir.
Kegelisahan bersumber pada unsur rasa dalam diri manusia, jadi bersifat
psychologis/kejiwaan.
B.
Kegelisahan
1.
Jenis-jenis Kegelisahan
Sigmund Freud membedakan kegelisahan
menjadi 3 (tiga) macam, yaitu :
a.
Kecemasan Obyektif
Sering
pula dinamakan kecemasan kenyataan, yaitu kecemasan yang disebabkan adanya
bahaya dari luar, misalnya anak sakit dalam keadaan koma, kemungkinan anaknya
diculik, dan lain-lain.
b.
Kecemasan Neurotik
Kecemasan
ini timbul karena pengamatan tentang bahaya dari naluriah (syaraf). Kecemasan
ini disebabkan karena :
1.
Cemas karena penyesuaian diri dengan
lingkungan sehingga takut akan bayangannya sendiri atau pada idenya sendiri.
2.
Rasa takut irasional atau phobi.
3.
Rasa takut yang lain, seperti gagap dan
lain sebagainya.
c.
Kecemasan Moral
Rasa
iri, dengki, benci, dendam dan sebagainya itu merupakan sebagian dari
pernyataan individu secara keseluruhan berdasarkan konsep yang kurang sehat,
maka sering alasan untuk iri, benci, dendam, dan sebagainya itu kurang dapat
dipahami orang lain. Adapun sebab-sebab orang gelisah pada hakikatnya takut
kehiangan hak-haknya. Usaha-usaha untuk mengatasi kegellisahan, pertama-tama
harus dimulai dari diri sendiri, yaitu harus bersikap tenang.
2.
Ketidak pastian
Ketidakpastian
berasal dari kata “tidak pasti’, artinya tidak tentu, tidak dapat ditentukan,
tidak tahu, tanpa arah yang jelas, tanpa asal-usul yang jelas. Keadaan semacam
ini lebih kuat tertuju pada status, nama baik, martabat seseorang, yang
menyentuh nilai kemanusiaannya, sehingga dirasakan akan merugikan haknya.
Ketidakpastian tentang lulus atau tidak dalam ujian Sarjana yang sudah lama
ditunggu-tunggu membuat orang gelisah.
3.
Keterasingan
Keterasingan
berasal dari kata “terasing”, artinya tersisih, terpisah, terpencil, dari
pergaulan masyarakat baik-baik.
BAB
X
MANUSIA DAN HARAPAN
A.
Pengantar
Setiap manusia yang normal mempunyai cita-cita atau harapan
dalam hidupnya. Ini berarti bahwa ia ingin hidup
dengan segala kesadaran ingin
membina hidupnya agar
selalu meningkat martabat nya. Dalam istilah teknis psikologis hal itu disebut”
Merealisasikan
diri ( self relazation), artinya manusia berusaha mengembangkan dirinya, sehingga hidupnya selalu meningkat dan lebih
baik serta dapat membantu memperkaya lingkungannya. Kepercayan manusia kepada
Tuhan Yang
Maha Esa mempengaruhi pandangan dan harapannya terhadap hari kemudian.
B.
Pokok
Bahasan
1.
Kebutuhan
dan Harapan
Harapan yang sangat
mendalam dapat menumbuhkan apa
yang disebut
keinginan. Harapan berasal dari kata “harap”
yang berarti keinginan sebelum sesuatu itu terjadi. Yang
mempunyai harapan itu hati, jadi putus harapan berarti putus asa. Contoh : seseorang mahasiswa yang selalu
memperhatikan dosennya,
mengerjakan
semua tugas
yang diberikannya, selalu hadir setiap kali kuliah dengan harapan memperoleh
nilai yang baik. Perbuatan atau tindakan yang mengandung motif, merupakan
tindakan yang mempunyai pengharapan,
artinya bahwa
tindakan-tindakan itu tujukan pada suatu titik sasaran akhir,
suatu hasil sebagai imbalannya, imbalan dari segala usaha, jerih payah yang telah dilakukannya.
Harapan selalu dilatarbelakangi oleh kehidupan yang berfokus pada kebutuhan
hidup, yang bertujuan
untuk menciptakan kemakmuran, kesenangan,
kebahagaian dan kebaikan.
2.
Percaya
diri
Kemampuan yang mendukung usaha atau perjuangan untuk membangkitkan sikap “percaya diri”
kemampuan
meliputi kemampuan fikiran dan kemampuan fisik. Dengan kemampuan fikiran dan kemampuan
fisik, manusia dapat meramalkan dan merencanakan secara sempurna usaha dan
perjuangan yang ditempuhnya
dalam
mewujudkan keinginan.
3.
Gairah
mengatasi kesulitan
Untuk mencapai
keberhasilan apa yang diharapkan, kesulitan-kesulitan yang menghadang harus
diatasi, dengan cara membangkitkan
kemampuan
yang berarti memupuk sikap percaya diri dan membangkitkan gairah atau semangat
kerja. Cara mengingkatkan kemampuan ini
adalah:
1) Banyak
memperoleh informasi tentang keberhasilan orang-orang tertentu.
2) Banyak
berkomunikasi, bekerja dan ikut serta dengan orang-orang yang telah berhasil
dalam usahanya untuk memperoleh pengalaman
dan keteramplan yang dapat dicontoh, sehingga memberi harapan.
3) Mendengar
dan menghayati nasehat-nasehat yang konstruktif, yang mengandung nilai-nilai
moral yang mempertebal keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga dapat
memberi arah pada kehidupan yang lebih baik dan memberi harapan.
DAFTAR PUSTAKA
Sudibyo,
Lies MH, dkk. 2013. Ilmu Social Budaya
Dasar. Yogyakarta : C.V ANDI OFFSET.