Monday, May 1, 2017

Cerpen



Seputih Kertas Kosong
Namaku Karla. Aku adalah seorang gadis yang berkebutuhan khusus. Aku terlahir sebagai seorang gadis yang tuli dan bisu. Karena aku terlahir di keluarga yang hidupnya berkecupan, maka mulai dari sewaktu masih kecil, kedua orang tuaku rela membayar mahal-mahal seorang perempuan untuk mengajariku berinteraksi dengan sesama yaitu melalui bahasa isyarat. Dia mengajariku begitu keras sampai akhirnya aku dapat berinteraksi dengan orang-orang di sekitarku. Semuanya terasa sangat sulit tuk ku pelajari dan ku pahami. Sempat aku menyerah dan hampir putus asa. Sempat aku tak bisa menerima keadaanku yang seperti ini, tapi keluarga dan temanku selalu memberi dukugan terhadapku. Tapi hidupku tak mungkin terhenti sampai di sini hanya karena hal yang ku alami.  Aku harus melanjutkan perjalanan hidup yang mungkin tak akan serumit yang aku bayangkan. Sampai pada akhirnya aku harus menjalin relasi yang lebih luas lagi, dimana aku di masukkan ke sekolah khusus. Ku takut hal ini akan sulit, karena tak semua orang bisa mengerti bahasa isyarat. Dan aku yakin ini akan mempersulit kehidupanku dalam berinteraksi dengan sesama. Di sekolah tersebut memang banyak anak yang berkebutuhan khusus, tapi separah diriku yang tak bisa mendengar dan tak bisa berbicara. Aku merasa minder, tetapi semuanya berubah ketika aku bertemu seorang teman yang mengalami hal yang sama seperti ku. Namanya Jini. Tetapi nasibnya lebih menyakitkan daripada yang aku alami, meskipun aku bisu dan tuli dan penuh kekurangan tetapi aku masih diterima di kehidupan keluargaku. Sementara Jini, dia dibuang oleh orang tuanya dikarenakan kekurangannya tersebut. Orang tuanya malu mengakuinya karena kekurangan yamg ia miliki. Meskipun kami tidak bisa mendengar dan berbicara, tetapi kami masih tetap bisa untuk berkomunikasi antara satu dan yang lainnya. Semenjak kami bertemu, kami pun sering bersama dan bahkan kini kami berteman baik. Kami menjalin hubungan persahabatan yang begitu erat. Kegiatan kami di sekolah kami lalui dengan canda tawa dan penuh kebersamaan. Di sekolah kami diajarkan berbagai banyak hal seperti layaknya seseorang yang hidup normal. Sampai pada akhirnya Jini tiba-tiba jatuh pingsan dari tempat duduknya ketika masih dalam proses belajar.  Aku pun menjadi panik, dan segera ku panggil guru yang sedang menulis di papan tulis. Kemudian Jini pun dilarikan ke rumah sakit, dan ketika sampai di rumah sakit Jini pun tak kunjung sadarkan diri. Jini dalam keadaan koma. Setelah diperiksa dokter, ternyata Jini mengidap penyakit kanker otak. Hal ini disebabkan karena ketika masih di dalam kandungan ibunya, Jini sempat ingin digugurkan. Tak banyak hal yang bisa dilakukan tim medis karena tak ada yang akan menanggung semua biaya rumah sakit. Panti asuhan tempat Jini tinggal pun tak mempunyai cukup uang untuk membayar biaya operasi Jini. Sedangkan apabila Jini tidak segera dioperasi mungkin jiwanya tak akan terselamatkan. Kami pun berusaha mencari bantuan dana untuk menyelamatkan Jini. Akupun kemudian pulang kerumah karena waktu sudah menunjukkan pukul 23:00 WIB, karena meskipun aku sudah menginjak dewasa, orang tua ku masih saja tetap mengawasi dan mengontrol kehidupanku. Ketika sampai di rumah, aku menangis didepan ibuku. Aku menceritakan apa yang dialami Jini. Aku bertanya, kenapa ada orang tua yang begitu kejam ingin menggugurkan anaknya yang tak bersalah apapun. Ibu pun akhirnya memberitahukan masalah ini kepada ayah. Dan ayah pun bersedia membantu semua biaya operasi Jini di rumah sakit. Dan ayah berjanji besok pagi akan ke rumah sakit untuk mengurus administrasi proses operasinya. Tetapi semuanya terlambat, pihak rumah sakit mengabariku bahwa Jini sudah meninggal dunia tepat pada pukul 01:00 WIB. Tak terasa air mataku mengalir begitu deras membasahi pipiku. “Maaf Jin, maafkan ku....” gumamku dalam hati. Aku minta maaf karena pertolongan yang tak sempat ku berikan. Jini adalah gadis yang baik dan tak pernah berbuat jahat terhadap orang di sekitarnya.”Kamu selalu peduli terhadap apapun yang ada di sekitarmu” gumamku disela-sela isak tangisku. Kau bagai selembar kertas putih kosong yang tak pernah ternodai.  Ku harap kau bahagia di sana dan jangan menangis lagi seperti yang biasanya kamu lakukan setiap malam. Tuhan lebih sayang padamu. Dia akan selalu menjagamu.

Karangan Ilmiah

KARANGAN ILMIAH ALIH KODE DAN CAMPUR KODE Karangan ini Disusun Sebagai Tugas Mata Kuliah Sosiolinguistik Pada Semester Genap Tahun...