Antropologi mempelajari semua mahluk manusia yang pernah
hidup pada semua waktu dan semua tempat yang ada di muka bumi ini yang diperkirakan muncul lebih dari 4 milyar tahun yang
lalu. Seperti ilmu-ilmu lain, Antropologi juga
mempunyai spesialisasi atau pengkhususan. Secara umum ada 3 bidang spesialisasi
dari Antropologi, yaitu Antropologi Fisik atau sering disebut juga dengan
istilah Antropologi Ragawi, Arkeologi dan Antropologi Sosial-Budaya ( Siregar, 2002: 3). Kebudayaan menunjuk pada berbagai aspek
kehidupan. Istilah ini meliputi cara-cara berlaku, kepercayaan-kepercayaan dan
sikap-sikap, dan juga hasil dari kegiatan manusia yang khas untuk suatu
masyarakat atau kelompok penduduk tertentu ( Siregar, 2002: 4). .Secara harfiah dalam bahasa Yunani kata antropos berarti “manusia” dan logos berarti “studi”, jadi antropologi
merupakan suatu disiplin yang berdasarkan rasa ingin tahu yang tiada
henti-hentinya tentang umat manusia (Ihromi 2016: 1-2). Antropologi secara
sederhana dipahami sebagai ilmu yang mempelajari manusia dan kebudayaannya.
Antropologi lahir dari pengalaman faktual berbagai bangsa di dunia, termasuk di
Indonesia. Lebih penting lagi, Antropologi merupakan ilmu yang mengkaji manusia
dan kebudayaan pada umumnya (Sutardi, 2007:1).
Ilmu antropologi, kebudayaan adalah
keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka
kehidupan masyarakat yang dimiliki manusia dengan belajar. Ada perbedaan
pendapat mengenai asal kata kebudayaan , terutama mengenai maknanya, yaitu
berasal dari kata budhayah, yaitu
bentuk jamak dan buddha yang berarti
“budi” dan “akal” sehingga kebudayaan diartikan sebagai hal-hal yang
berhubungan dengan akal (Sutardi, 2007: 10). Secara historis, antropologi
merupakan hasil proses percabangan dari sosiologi, dalam arti bahwa antropologi
dianggap mengkaji secara khusus struktur dan institusi “masyarakat primitif“
atau kelompok sosial dengan ciri solidaritas mekanis, suatu citra yang hingga
kini masih dianut masyarakat umum, meskipun antropologi sejak lama mempunyai
perhatian terhadap masyarakat dengan kebudayaan tulisan (literate societes) (Purwo, 2000: 11). Sementara itu, antropologi dapat dipandang ilmiah karena
kajian ini meliputi kegiatan akumulasi pengetahuan yang sistem dan dapat
dipercaya mengenai suatu aspek universal yang dilaksanakan melalui pengamatan
empiris dan diinterpretasi dalam konteks antar hubungan konsep-konsep yang
lebih disukai bagi pengamatan empiris (Saifuddin.,
2005: 15).
DAFTAR PUSTAKA
Siregar, Leonard, 2002.
Antropologi Dan Konsep Kebudayaan. Jurnal
Antropologi Papua, Volume 1, No. 1, https://www.google.com/search?q=artikel+dalam+jurnal+materi+tentang+antropologi+dan+konsep+kebudayaan&ie=utf-8&oe=utf-8&client=firefox-b-ab diakses pada tanggal 21 September 2016.
Ihromi, T.O (ed.). 2016. Pokok-Pokok Antroologi Budaya. Jakarta :
Yayasan Pustaka Obor Indonesia. https://books.google.co.id/books?id=6S_o_kwiLTcC&pg=PR15&dq=antropologi+dan+konsep+kebudayaan&hl=id&sa=X&redir_esc=y#v=onepage&q=antropologi%20dan%20konsep%20kebudayaan&f=false
diakses pada tanggal 5 Oktober 2016.
Sutardi, Tedi. 2007. Antropologi:
Mengungkap Keragaman Budaya Untuk SMA/MA Kelas Xi Program Bahasa. Bandung :
PT Setia Purna Inves. https://books.google.co.id/books?id=OrEMsPV8yQkC&pg=PA9&dq=antropologi+dan+konsep+kebudayaan&hl=id&sa=X&redir_esc=y#v=onepage&q=antropologi%20dan%20konsep%20kebudayaan&f=false diakses pada tanggal 5 Oktober 2016.
Purwo, Bambang Kaswanti. 2000. Kajian
Serba Linguistik: untuk Anton Moeliono Pereksa Bahasa. Jakarta: Gunung
Mulia dalam kerja sama dengan Universitas Katolik Atma Jaya. https://books.google.co.id/books?id=hoOMcRnKWYMC&pg=PA8&dq=antropologi+dan+konsep+kebudayaan&hl=id&sa=X&redir_esc=y#v=onepage&q=antropologi%20dan%20konsep%20kebudayaan&f=false diakses pada tanggal 5 Oktober 2016.
Saifuddin, Achmad Fedyani. 2006. Antropologi Kontemporer: Suatu Pengantar Kritis Mengenai Paradigma. Jakarta: Kencana.
No comments:
Post a Comment